Antara Dua Pilihan
(Ketika Cinta Harus Memilih)
"Aku sayang kamu, aku mencintaimu. Apakah kamu ada perasaan padaku?"
Rangkaian kalimat itu mampu menyihirku tertegun membatu. Membuatku tak kuasa menggerakkan sekujur tubuhku. Aku bingung untuk menjawab nya. Sungguh-sungguh bingung.
Apakah aku harus menjawab, Ya. Ataukah aku jawab sebaliknya, Tidak.
Pernyataan ini adalah pernyataan sekaligus pertanyaan Lia padaku yang ketiga kalinya.
Dulu, pertama kali Lia pernah mengungkapkan hatinya padaku. Saat itu aku hanya menjawabnya dengan kata-kata diplomatis, Maaf...Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Beri Aku waktu!
Pertanyaan kedua kalinya juga dengan makna yang sama. Waktu itu kucoba menjawabanya dengan menjelaskan keadaanku yang sesungguhnya,Lia...aku ini orang miskin, aku juga dari keluarga yang tidak berada. Aku hanya seorang pengangguran. Masa depanku belum terbayang. Aku takut kamu akan menyesal bila hidup bersamaku. Dan perjalananku masih lama dan panjang. Namun, dengan semua penjelasanku itu, Lia tidak menjauh dariku, bahkan seakan lebih mendekatiku. Lebih memperhatikanku. Hingga sekarang.
"Aduh..." ku kernyitkan keningku. Kini terasa kepalaku mulai pusing. Perutku mulai keroncongan, karena dari pagi belum ada nasi yang mampir di perutku. Seluruh ruang pikiranku masih penuh sesak dijejali kebingungan untuk menjawab pertanyaan Lia. Ah...Kenapa pertanyaan ini sangat sulit kujawab?
"Kok diam aja sich...nggak jawab pertanyaanku?" Setelah selusin menit, kembali pertanyaan itu muncul, seakan-akan keluar menerorku dan memaksaku untuk menjawab. Kalimat itu, membuat seluruh konsentrasi belajarku kabur. Membuat kepalaku bertambah pusing. Selaksa tangan-tangan ghaib seakan memeras keras kepalaku, membuat kepalaku tidak dapat kupaksakan lagi untuk tegak. Ku tutup bacaanku, dan kujatuhkan badanku ke atas kasur kecilku yang seketika tak lagi terasa empuk.
Kupandangi atap kamar dan sekelilingnya yang mendadak menjadi suram dan seram. Semua kini terasa menanyaiku. Suasana yang semula hening menjadi bising. Tembok dinding kamarku seakan berkata: Cepat jawab pertanyaannya!! Lemari bajuku seakan marah dan menyuruhku: Cepat jawab pertanyaannya!! Gantungan baju yang dipenuhi jaket dan jeans teman-temanku seakan berkoar: Cepat jawab pertanyaannya!! Kini semuanya menyuruhku untuk menjawab. Memaksaku. Tanpa komando, bulu kudukku kini berdiri. Menambah seram suasana malam.
Di sela-sela kepeningan kepalaku. Aku teringat pada sebuah nama, Sari. Mojang Sunda yang kini berada nun jauh disana. Ah...mungkin yang dirasakanku sekarang ini sama dengan yang dirasakan Sari. Merasa bingung untuk menjawab pertanyaanku yang kulontarkan sebelum ku pergi mengejar cita-citaku. Sari merasa bingung untuk menjawab ‘hasratku’. Diam-diam hatiku terenyuh dengan apa yang dirasakannya. kini aku merasakan apa yang Sari rasakan. Hhmm...Kasihan Sari.
“Huuuhh” kuhembuskan napasku panjang. Terasa pusing yang mengglayuti kepalaku sedikit mulai pudar. Kucoba mengusir rasa takut dengan berdzikir dan membaca ayat-ayat Al-Quran.
"Kalo kamu nggak suka padaku, bilang aja!!!" lagi-lagi kalimat itu timbul, membuat tambah kebingunganku dan kembali membuat pusing batok kepalaku yang tadi sudah mulai reda. Aku telah terdiam begitu lama. Mungkin ribuan detik sudah kuhabiskan. Hanya untuk memikirkan jawaban pertanyaan Lia.
"Lia...kenapa kau menyukaiku. Mencintaiku. Menyayangiku. Dulu kamu menganggapku hanya sebagai teman. Kenapa sekarang berubah?" Kata-kata itu hanya terlontar dan bergaung dalam hatiku. Tak sanggup ku keluarkan.
Lia memang baik, penuh perhatian dan berpendidikan. Dia jebolan sarjana Bahasa Jepang. Bahkan dia sudah mapan bekerja sebagai tutor Bahasa Jepang di Salah satu perusahaan Indonesia-Jepang. Selain itu, dia juga dari keluarga terpandang di desanya. Terakhir, dia juga taat beribadah.
Ku ketahui itu semua, atas laporan dia kepadaku. Masih ku ingat pada bulan Ramadhan kemarin, dia sering memberi motivasi padaku untuk lebih rajin belajar dan beribadah. Dia sering bilang, Aku baru pulang tarawehan. Gimana dengan kamu? Shaumnya? Qiraahnya? Belajarnya jangan malas-malasan yah?!
Ah...aku masih belum dapat jawaban. Aku belum bisa memutuskannya. Kenapa begitu berat untuk membuat keputusan ini. Aku sekarang dilema diantara dua pilihan; antara menerima Lia dan menunggu jawaban Sari atau menolak Lia dan menunggu jawaban Sari.
Kuterus berpikir dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kusadari hidup ini adalah memilih. Memilih diantara dua pilihan. Tuhan telah menciptakan bagi makhluk-Nya dua tempat; Syurga dan Neraka. Dipersilahkan bagi mereka untuk memilih. Tuhan telah menggariskan dua jalan; kebahagiaan dan kesengsaraan. Dibebaskan bagi makhluk-Nya untuk memilih. Tuhan juga telah menciptakan dua penyeru; Para Rosul dan Thogut. Tidak ada paksaan pada makluk-Nya untuk mengikuti satu diantara seruan mereka. Seperti halnya aku sekarang, memilih satu diantara dua; Lia atau Sari.
Sejuta konsentrasi ku kerahkan. Sejuta urat syaraf ku tegangkan. Sejuta asa kufungsikan, untuk menghasilkan jawaban yang ‘tepat’.
Kutanyakan ‘cinta hati’ku, kepada siapa dia berpihak. Kutanya ‘kasih hati’ku, kepada siapa dia menyayang. Kutanya sanubariku, kepada siapa dia mendamba. Akhirnya, ku dapatkan jawaban itu dari ‘kasih hati’ku. Kuikuti jawaban pilihan hati nuraniku.
Dengan berat hati dan linangan air mata. kupijit tombol-tombol keypad ponselku yang dari tadi berada digenggamanku. Kususun rangakaian kalimat. Lalu kupilih Send dari beberapa kata perintah yang tertulis beruntun pada layar Nokiaku.
“Lia...Sungguh aku tak ingin mengecewakanmu. Namun, agar kamu tidak selalu berharap. Dengan berat hati aku harus katakan: Hatiku sudah punya pilihan. Maafkan aku!”
“Delivered!” report itu mengiringi air mataku yang tak terasa telah menganak sungai di pipiku. Hatiku sedih telah mengecewakan temanku. Ini terpaksa ku lakukan demi kebaikannya dan kebaikanku juga. Aku tidak mau munafik dan membohongi nuraniku sendiri.
Di pinggiran kota Tunis yang tiris
13 Januari 2006
"Aku sayang kamu, aku mencintaimu. Apakah kamu ada perasaan padaku?"
Rangkaian kalimat itu mampu menyihirku tertegun membatu. Membuatku tak kuasa menggerakkan sekujur tubuhku. Aku bingung untuk menjawab nya. Sungguh-sungguh bingung.
Apakah aku harus menjawab, Ya. Ataukah aku jawab sebaliknya, Tidak.
Pernyataan ini adalah pernyataan sekaligus pertanyaan Lia padaku yang ketiga kalinya.
Dulu, pertama kali Lia pernah mengungkapkan hatinya padaku. Saat itu aku hanya menjawabnya dengan kata-kata diplomatis, Maaf...Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Beri Aku waktu!
Pertanyaan kedua kalinya juga dengan makna yang sama. Waktu itu kucoba menjawabanya dengan menjelaskan keadaanku yang sesungguhnya,Lia...aku ini orang miskin, aku juga dari keluarga yang tidak berada. Aku hanya seorang pengangguran. Masa depanku belum terbayang. Aku takut kamu akan menyesal bila hidup bersamaku. Dan perjalananku masih lama dan panjang. Namun, dengan semua penjelasanku itu, Lia tidak menjauh dariku, bahkan seakan lebih mendekatiku. Lebih memperhatikanku. Hingga sekarang.
"Aduh..." ku kernyitkan keningku. Kini terasa kepalaku mulai pusing. Perutku mulai keroncongan, karena dari pagi belum ada nasi yang mampir di perutku. Seluruh ruang pikiranku masih penuh sesak dijejali kebingungan untuk menjawab pertanyaan Lia. Ah...Kenapa pertanyaan ini sangat sulit kujawab?
"Kok diam aja sich...nggak jawab pertanyaanku?" Setelah selusin menit, kembali pertanyaan itu muncul, seakan-akan keluar menerorku dan memaksaku untuk menjawab. Kalimat itu, membuat seluruh konsentrasi belajarku kabur. Membuat kepalaku bertambah pusing. Selaksa tangan-tangan ghaib seakan memeras keras kepalaku, membuat kepalaku tidak dapat kupaksakan lagi untuk tegak. Ku tutup bacaanku, dan kujatuhkan badanku ke atas kasur kecilku yang seketika tak lagi terasa empuk.
Kupandangi atap kamar dan sekelilingnya yang mendadak menjadi suram dan seram. Semua kini terasa menanyaiku. Suasana yang semula hening menjadi bising. Tembok dinding kamarku seakan berkata: Cepat jawab pertanyaannya!! Lemari bajuku seakan marah dan menyuruhku: Cepat jawab pertanyaannya!! Gantungan baju yang dipenuhi jaket dan jeans teman-temanku seakan berkoar: Cepat jawab pertanyaannya!! Kini semuanya menyuruhku untuk menjawab. Memaksaku. Tanpa komando, bulu kudukku kini berdiri. Menambah seram suasana malam.
Di sela-sela kepeningan kepalaku. Aku teringat pada sebuah nama, Sari. Mojang Sunda yang kini berada nun jauh disana. Ah...mungkin yang dirasakanku sekarang ini sama dengan yang dirasakan Sari. Merasa bingung untuk menjawab pertanyaanku yang kulontarkan sebelum ku pergi mengejar cita-citaku. Sari merasa bingung untuk menjawab ‘hasratku’. Diam-diam hatiku terenyuh dengan apa yang dirasakannya. kini aku merasakan apa yang Sari rasakan. Hhmm...Kasihan Sari.
“Huuuhh” kuhembuskan napasku panjang. Terasa pusing yang mengglayuti kepalaku sedikit mulai pudar. Kucoba mengusir rasa takut dengan berdzikir dan membaca ayat-ayat Al-Quran.
"Kalo kamu nggak suka padaku, bilang aja!!!" lagi-lagi kalimat itu timbul, membuat tambah kebingunganku dan kembali membuat pusing batok kepalaku yang tadi sudah mulai reda. Aku telah terdiam begitu lama. Mungkin ribuan detik sudah kuhabiskan. Hanya untuk memikirkan jawaban pertanyaan Lia.
"Lia...kenapa kau menyukaiku. Mencintaiku. Menyayangiku. Dulu kamu menganggapku hanya sebagai teman. Kenapa sekarang berubah?" Kata-kata itu hanya terlontar dan bergaung dalam hatiku. Tak sanggup ku keluarkan.
Lia memang baik, penuh perhatian dan berpendidikan. Dia jebolan sarjana Bahasa Jepang. Bahkan dia sudah mapan bekerja sebagai tutor Bahasa Jepang di Salah satu perusahaan Indonesia-Jepang. Selain itu, dia juga dari keluarga terpandang di desanya. Terakhir, dia juga taat beribadah.
Ku ketahui itu semua, atas laporan dia kepadaku. Masih ku ingat pada bulan Ramadhan kemarin, dia sering memberi motivasi padaku untuk lebih rajin belajar dan beribadah. Dia sering bilang, Aku baru pulang tarawehan. Gimana dengan kamu? Shaumnya? Qiraahnya? Belajarnya jangan malas-malasan yah?!
Ah...aku masih belum dapat jawaban. Aku belum bisa memutuskannya. Kenapa begitu berat untuk membuat keputusan ini. Aku sekarang dilema diantara dua pilihan; antara menerima Lia dan menunggu jawaban Sari atau menolak Lia dan menunggu jawaban Sari.
Kuterus berpikir dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kusadari hidup ini adalah memilih. Memilih diantara dua pilihan. Tuhan telah menciptakan bagi makhluk-Nya dua tempat; Syurga dan Neraka. Dipersilahkan bagi mereka untuk memilih. Tuhan telah menggariskan dua jalan; kebahagiaan dan kesengsaraan. Dibebaskan bagi makhluk-Nya untuk memilih. Tuhan juga telah menciptakan dua penyeru; Para Rosul dan Thogut. Tidak ada paksaan pada makluk-Nya untuk mengikuti satu diantara seruan mereka. Seperti halnya aku sekarang, memilih satu diantara dua; Lia atau Sari.
Sejuta konsentrasi ku kerahkan. Sejuta urat syaraf ku tegangkan. Sejuta asa kufungsikan, untuk menghasilkan jawaban yang ‘tepat’.
Kutanyakan ‘cinta hati’ku, kepada siapa dia berpihak. Kutanya ‘kasih hati’ku, kepada siapa dia menyayang. Kutanya sanubariku, kepada siapa dia mendamba. Akhirnya, ku dapatkan jawaban itu dari ‘kasih hati’ku. Kuikuti jawaban pilihan hati nuraniku.
Dengan berat hati dan linangan air mata. kupijit tombol-tombol keypad ponselku yang dari tadi berada digenggamanku. Kususun rangakaian kalimat. Lalu kupilih Send dari beberapa kata perintah yang tertulis beruntun pada layar Nokiaku.
“Lia...Sungguh aku tak ingin mengecewakanmu. Namun, agar kamu tidak selalu berharap. Dengan berat hati aku harus katakan: Hatiku sudah punya pilihan. Maafkan aku!”
“Delivered!” report itu mengiringi air mataku yang tak terasa telah menganak sungai di pipiku. Hatiku sedih telah mengecewakan temanku. Ini terpaksa ku lakukan demi kebaikannya dan kebaikanku juga. Aku tidak mau munafik dan membohongi nuraniku sendiri.
Di pinggiran kota Tunis yang tiris
13 Januari 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home