Kumpulan Cerpen dan Puisi

"Jadikanlah Hidup Pertama Sebagai Bekal Untuk Hidup Terakhir"

Name:
Location: Ber Aniba-Sedjoumi, Tunis, Tunisia

AKU INSAN BIASA YANG INGIN "TERBIASA" DENGAN YANG LUAR BIASA. Blog ini ku buat November 2005. Blog ini kujadikan sebagai kanvas lukisan keindahan dan kegembiraan sekaligus kertas coretan kesedihan dan kemendungan hatiku. Juga kujadikan diary petualanganku. Terakhir, kujadikan sebagai tempat curhatku:-) Terima kasih kepada pengunjung blog sederhana ini. Semoga kita dapat mengambil manfaat positif dari alam internet yang mendunia.

Saturday, April 29, 2006

Ketika Cinta Berpihak

Tepat pukul 12.30 terdengar suara adzan dari mesjid yang tidak begitu jauh dari rumahku. Suara panggilannya yang mendayu merambat masuk ke relung hati dan mampu menggerakkan tubuhku yang semenjak tadi duduk terpaku. Aku langsung menunaikan kewajibanku yang satu itu, kebetulan aku sudah berwudlu sebelumnya. Setelah selesai shalat dan berdoa, aku langsung angkat kaki menuju warnet. Tujuannya tiada bukan, buka mail dan chating. Aku jarang mengajak chating, kecuali hanya orang-orang tertentu saja, seperti adik kandungku. Tapi hari ini aku chating bukan dengannya, melainkan dengan ‘sang bidadari’ yang telah ku ajak via sms, malamnya. Siapa lagi ‘sang bidadari’ itu kalau bukan Sari Siti Sholehah. Mungkin kalau dibahasakan anak gaul sekarang, istilahnya ‘janjian’ atau ‘ngedate’ atau nggak tahu apa lah.

Udara saat ini terasa tidak terlalu dingin, karena musim dingin sudah mulai minggir, tersingkir oleh musim semi. Langitpun terlihat cerah tanpa mega mendung yang biasa sering menggelayutinya pada puncaknya musim dingin kemarin. Mendungnya mega itu akan membuahkan hujan. Meskipun terkadang logika ‘mendung’ pertanda ‘akan turun hujan’ tidak selalu tepat. ”Mendung tak berarti hujan”, itulah lirik lagunya:-).

Ku berjalan cepat, bahkan terkadang berlari kecil agar aku bisa sampai dan online tepat waktu sesuai janjiku, pukul 13.00 WK (Waktu Tunis).

Pukul 13.00 kurang 300 detik aku sampai di warnet. Ku duduki salah satu kursi kosong yang berada di depan komputer, dari dua belas kursi yang ada di Warnet Word.

Segera ku buka YM (Yahoo Messenger). Setelah ku isi ID dan password, terbukalah sederetan nama-nama id teman-temanku yang tertera pada list. “Ah id dia tidak menyala” gumamku dalam hati, setelah melihat id ‘sang bidadari’ tidak terlihat menguning. “Mungkin dia belum datang, sebentar lagi dia pasti datang, sekarang mungkin masih diperjalanan pulang dari kuliah. Sesuai dengan janjiannya, dia akan chating setelah pulang kuliah” lanjut celoteh batinku lagi.

Tiba-tiba sebuah message muncul dilayar komputer yang aku tongkrongi.“Assalamu’alaikum”. Hah itu id dia. Hatiku bersorak gembira karena yang ditunggu sudah datang dan menyapa.

Jari-jari tanganku yang sudah hapal tombol-tombol keyboard segera mengetik cepat, “Wa’alaikumussalam. Dah lama nunggu yah?” tanyaku.
“Baru, kirain ana terlambat”
“oh nggak, pas kok sesuai janji” jawabku lagi.
“baru pulang kuliah?”
“iya”
Tanya-jawabpun terjadi antara aku dan dia, hampir dua jam sudah kuhabiskan. Banyak pertanyaan yang aku lontarkan.Segala unek-unek hati aku sampaikan pada ‘sang bidadari’ itu.

Hingga akhirnya terlontarlah pertanyaan yang sangat privasi, “Sari, dulu Kk pernah mengatakan sayang padamu, apakah Sari masih ingat dengan kata-kata Kk itu?”
“Iya, Sari masih ingat”
“apakah Sari masih ragu dengan kata-kata kk? ”
“nggak,Sari ngak meragukan kata-kata kakak itu”. Mendadak hatiku menjadi dag-dig-dug. Ada kegalauan yang bergejolak dalam batinku. Ketika membaca kata-katanya.
“Klo begitu, apakah Sari masih ragu untuk menjawab pertanyaan kk dulu?” hatiku semakin galau, ketika kuketik pertanyaan ini.
“kakak ingin jawabannya sekarng?” tiba-tiba dia balik bertanya.
“ya, kalo jawaban itu sudah siap lahir bathin, menjawab sekarang itu lebih baik”
“kalau sudah dijawab, kakak mau apa?” ups, pertanyaan dia kali ini membuat hatiku tersentak kaget. Jangan-jangan dia marah akan pertanyaanku. Jangan-jangan dia tidak setuju dengan pertanyaanku. jangan-jangan...
Ah, aku tidak habis akal, ku lontarkan balik pertanyaan­nya,”Sari maunya apa?”
Agak lama dia tidak menjawab, mungkin tertegun ketika membaca pertanyaan balik dariku.
“kakak tidak akan menjadi” tiba-tiba kalimat itu muncul. Hah, hatiku tersentak kaget, lebih kaget ketika membaca pertanyaan dia yang tadi. Bahkan kalimat ini mampu membuat sekujur tubuhku mendadak terasa panas. Kalimat ini mampu membuat jantungku berdetak sangat cepat, seperti habis lari marathon. Pikiranku sudah berprasangka buruk dan pesimis. Mungkin arti jelas kalimat itu adalah, “kakak tidak akan menjadi kekasih Sari”. Itu adalah penolakan halus, yang berarti cintaku ditolaknya. Cintaku tidak terbalas. Aku hanya bertepuk sebelah tangan.Hmm sedih dech:-(.

Aku coba menenangkan hati dan pikiranku yang galau, segalau ombak lautan di pantai Jerba sana. Setelah sedikit tenang, jari-jariku kembali mengetik.
“Kakak tidak akan menjadi? Bisa dijelaskan lagi maksudnya!” permohonanku padanya.
“Rahwana” jawabnya singkat. Ketika mataku membaca nama tokoh wayang ini, seketika pikiranku melesat jauh kebelakang. Menembus ruang dan waktu yang telah lalu. Menengok file-file yang telah tersimpan di memori otakku. Iya, aku ingat coretanku tentang tokoh Rahwana ini yang pernah ku kirimkan kepadanya dulu. Dicoretan itu kusebutkan bahwa Rahwana ditolak cintanya oleh Srikandi yang cantik. Apakah kata-kata dia ini berarti cintaku diterima? Belum pasti.
“apakah ini berarti Sari menerima Kakak? Kakak takut salah mengartikan, karena selain tokoh Rahwana, ada tokoh lain pada tulisan Kakak itu” kulontarkan pertanyaan untuk meyakinkan.
“Apakah kakak belum paham?”
“Kakak takut salah memahaminya” tanyaku ingin penjelasan.
“Iya. Jawaban Sari sesuai dengan mimpi kakak tempo dulu” lagi-lagi kata-katanya ini mengingatkan pada mimpiku tiga bulan silam. Tentang coretan mimpiku yang kukirimkan pula padanya. Di mimpi itu dia mengatakan dengan lantang, "Terus terang saja, nama Kakak sudah mendapatkan tempat istimewa di hati Sari, nama kakak sudah terlukis indah di sanubari Sari, tidak ada nama lain lagi di hati ini selain nama Kakak, sekang Sari sudah benar-benar yakin dengan pilihan Sari". Kata-kata inilah yang membuat aku merasa lega.

Spontan hatiku berubah. Semula yang galau tak karuan menjadi sangat gembira, senang dan berbunga-bunga. Hawa panas yang tadi mengalir di sekujur tubuhku, kini menjadi sirna. Ya, aku sangat gembira dengan jawaban ‘iya’ dari Sari. Hampir tak dapat ku tahan ketika mataku ingin mengalirkan air kegembiraannya.

Hari ini (Rabu,010306) pas dengan hari ke­lahir­anku, akan menjadi salah satu hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Bidadariku, aku akan selalu mencintai dan menyayangimu. Aku akan setia. Percayalah!!!

Dipinggiran kota Tunis
Coretan hati yang kini berseri
Ulpa® 1 Maret 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home