Kumpulan Cerpen dan Puisi

"Jadikanlah Hidup Pertama Sebagai Bekal Untuk Hidup Terakhir"

Name:
Location: Ber Aniba-Sedjoumi, Tunis, Tunisia

AKU INSAN BIASA YANG INGIN "TERBIASA" DENGAN YANG LUAR BIASA. Blog ini ku buat November 2005. Blog ini kujadikan sebagai kanvas lukisan keindahan dan kegembiraan sekaligus kertas coretan kesedihan dan kemendungan hatiku. Juga kujadikan diary petualanganku. Terakhir, kujadikan sebagai tempat curhatku:-) Terima kasih kepada pengunjung blog sederhana ini. Semoga kita dapat mengambil manfaat positif dari alam internet yang mendunia.

Saturday, April 29, 2006

Cemburu is Jealous

Cemburu is Jealous

“jangan dulu emosi, dengarkan dulu penjelasanku, aku...” belum selesai aku bicara, telpon selularku terdengar tut tut tut, tanda sudah diputuskan oleh lawan bicaraku. Aku hanya bisa menarik napas panjang. Kamarku yang memang tidak besar, terasa menjadi sangat sempit dan pengap pengaruh depresi bathinku yang sedang kecewa, bingung dan tak menentu.

Aku tak habis pikir kenapa dia tega akan memutuskan hubungan ‘bathin’ yang lama telah terjalin, hanya karena sedikit kesalah pahamanku terhadap­nya. Kasih sayang dan pengorbananku selama ini seakan tak berbekas. Peribahasa pujangga kemarau satu tahun hilang oleh hujan sehari atau gara nila setitik rusak susu sebelanga, seakan terjadi padaku sekarang. Entitas cintaku selama ini seakan tak dapat membuatnya memaafkanku.

Hampir semua keinginannya aku turuti. Termasuk dalam hal mengikuti cara ‘bercintanya’ yang ‘khas’; dia tak ingin jalan ataupun ngobrol hanya berduaan, aku setujui. Dia tak ingin terlalu sering dikunjungi, aku juga tidak menolak.

Sejak semula, jauh sebelum meng­ungkap­kan perasaanku pada­nya, aku sudah mengira akan semua keinginan­nya dalam hal ‘cara memadu kasih’. Aku sadari itu sebelumnya karena aku tahu siapa dia. Dia seorang ukht yang taat dan sangat memahami konsep dan doktrin ajaran agama yang dianutnya.

Aku berani dan siap untuk menanggung resiko itu semua, walaupun aku harus sabar mendengar celotehan dan sindiran teman-teman gaulku. Toh setelah ku jalani ternyata enjoy juga. Mereka sering mengatakan, “kamu ketinggalan jaman, masak pacaran nggak ada apelnya”. ”Masak pacaran nggak pernah jalan bareng, apa enaknya pacaran seperti itu.”

Biasanya aku hanya bisa menjawab, “itulah kerennya pacaranku, yang berbeda dengan kamu semua hehe...”. Mereka itu teman fitness sekaligus fathner sparing kungfuku. Aku juga sering kumpul dan bermain bersama mereka. Mereka semuanya baik, hanya saja mereka bersikap demikian karena mungkin belum tahu hukum pacaran yang mereka maksud.

Mereka mengetahui aku sudah punya kekasih, ketika secara tidak sengaja, salah seorang dari mereka membaca smsku yang telah kukirimkan pada pacarku. Semenjak itu, tersebarlah dikalangan teman-temanku bahwa aku sudah punya kekasih. Namun mereka belum pernah melihatku apel malam minggu atau berjalan sama cewek. Karenanya mereka sering nyeletuk mengomporiku, provokasi menurut terminologi modern sekarang.

Aku selalu acuh dan tak pernah marah dengan sindiran-sindiran teman-temanku yang dikemas dalam canda mereka. Aku tetap merasa ‘bangga’ dengan cara pacaran yang dianut kekasihku, karena tak terbawa arus negatif pergaulan modern di era globalisasi, yang bila tidak dipagari dengan ke­imanan dan ketakwaan, kemodernan dan globalisasi sekaligus ‘transparansi’ hanya akan membawa kepada kedekadensian moral anak bangsa.

Asumsi pacaran versi kekasihku yang jauh berbeda dengan pacaran yang jadi pemahaman anak muda jaman sekarang, memang telah ku pertimbangkan matang-matang sebelum aku ‘melamar’nya, sehingga ketika ‘lamaranku’ diterima, aku tidak heran dan keberatan untuk ‘berpacaran’ dengan caranya. Sampai akhirnya aku sekarang sudah terbiasa dengan tidak adanya `apel` malam minggu, ataupun jalan berdua. Pacaranku cukup hanya dengan sms yang tidak sering dan telepon yang dilakukan sekali-kali saja. Paling banter, main bersama adik kecil­nya, Usman.

Bukannya aku tidak mau untuk sering ngobrol dan menemuinya, hanya saja, dia punya syarat tertentu sebagai ‘mahar’ untuk bisa berjalan dan ngobrol bersamanya, yaitu; boleh ngobrol tapi harus di rumahnya atau di tempat umum yang ramai, juga jangan berdua. Karena­nya, Usman, adik kandungnya yang baru kelas enam SD akrab denganku, karena sering diajaknya untuk menemaniku ngobrol dengannya. Syarat lainnya, bila sedang jalan-jalan kemudian terdengar azan, maka harus ‘transit’ dulu ke mesjid untuk sekedar berjamaah.

Pernah suatu hari, berkenaan dengan moment hari ulang tahunnya, kebetulan hari itu pas libur. Aku sengaja me­ngajak­nya -tentu dengan Usman- untuk ku traktir makan siang di sebuah restoran yang cukup elit untuk standar menengah. Tiba di restoran beberapa menit sebelum dhuhur. Ketika makanan hendak dipesan, terdengar muadzin memanggil. Memesan makananpun dibatalkan. “Biar tenang makannya, kita sholat dulu aja yuk!” ajaknya kepadaku. Akupun setuju dan segera menuju masjid yang berada dekat restoran tersebut.

Hatiku sangat sedih dan pedih ketika telponku diputuskannya sebelum aku selesai bicara. Namun aku memakluminya. Aku yakin dia me­lakukan­nya karena masih dalam keadaan emosi. Besok atau lusa aku yakin dia akan sadar dan menyesali segala per­buatan­nya itu.

***

Aku tak tahu kenapa. Saat ini, untuk kasus ini, aku sangat kesal dan emosi. Bahkan kekesalanku kali ini mampu memaksaku memijit tombol merah pada Hpku dan memutuskan pembicaraan­nya di telepon. Padahal, biasanya aku selalu sabar dan bersikap tenang dalam menghadapi setiap masalah.

Aku lakukan ini semua terdorong oleh rasa emosi dan rasa egois yang mendadak kali ini sangat sulit ku kendalikan. Ada rasa gengsi menyelinap dalam hatiku untuk menerima maafnya.

Aku tidak menafikan kejujuran, kesetiaan dan semua ke­baikan­nya. Aku juga tidak memungkiri hati ini masih sangat menyayangi dan mencintainya. Bahkan aku tidak menjamin, jika ku berpisah dan putus dengan­nya, akan mendapatkan pengganti seperti dia. Akan sulit kukira untuk mendapatkan laki-laki seperti dia.

Bila aku pikir ulang, memang kesalahannya tidak seberapa. Dia bertanya seperti itu karena dia memang sangat mencintai dan memperhatikanku. Hanya karena suasana hatiku saat ini kurang kondusif dan aku juga kurang enak badan, ketika ditanya, “kemarin jalan dengan siapa”? terasa olehku, dia seperti menginterogasi dan menuduhku berkhianat dan tidak setia.

Ah, aku sekarang merasa sangat bingung. Ingin permohonan maaf ini kusampaikan segera padanya, hanya saja gengsi ini belumlah hilang. Ingin rasanya sekarang aku menelpon balik dan mohon maaf atas ke­lancangan­ku tadi, memutuskan pem­bicaraan­­nya, namun hati ini belumlah mengizinkan.

***

Hah, apa yang harus kulakukan sekarang, ku telpon dia lagi dan langsung minta maaf tanpa menjelaskan dulu ke­salah­pahamanku, atau membiarkannya dulu untuk sementara waktu. Membiarkan dia berpikir jernih dengan kepala dingin dan membatalkan niatnya untuk memutuskan hubungan.

Aku sungguh menyesal dengan pertanyaan yang telah kulontarkan padanya. Meskipun ku anggap baik, tenyata me­nyebab­kan problem yang sangat serius. Bila kutahu akan begini jadinya, aku tidak akan bertanya mengenai keadaan dia kemarin berjalan dengan siapa.

Ini semua kesalahanku. Mestinya sebelum aku tanyakan, aku selidiki validitasnya terlebih dahulu, apalagi saat itu aku hanya melihatnya sekilas dari kaca mobil. Mungkin saat itu aku salah lihat, sepertinya dia sedang jalan dengan laki-laki lain, padahal bukan dia. Bisa jadi yang kulihat waktu itu adalah wanita lain yang kebetulan postur, jilbab dan pakaiannya sama persis dengannya.

Maafkan aku ya Allah, aku telah salah sangka. Kutak­ percaya pertanyaan dan perhatianku jadi simalakama buatku. Ya Allah, jangan Kau putuskan hubunganku dengannya. Berilah jalan keluar dari masalah ini.

Oh iya, besok mungkin kesempatanku untuk meminta maaf langsung atas pertanyaan dan kesalah pahamanku terhadapnya, semoga dia berlapang dada dan menerima kata maafku. Aku yakin sifatnya yang lembut dan pemaaf masih tetap melekat pada pendiriannya. Marahnya tidak akan lama. Ya Allah bukakanlah hatinya untuk menerima maafku.

***

Ah, bila aku turuti rasa egoisme dan gengsi yang berkecamuk menyelimuti relung sanubariku untuk memaafkannya, bukan tidak mungkin aku akan kehilangannya. Bukan tidak mungkin dia akan pergi meninggalkanku.

Sekarang kekhawatiranku semakin terasa dan bertambah, jika kuingat segala kebaikan, perhatian, dan dedikasinya ter­hadap­ku selama ini. Aku khawatir bila dia pergi me­ninggalkan­ku, aku tidak temukan laki-laki seperti dia. Bukan aku takut tidak bisa mendapatkan laki-laki lain, hanya saja, meskipun banyak laki-laki, tetapi lelaki seperti dia sangatlah jarang. Tanpa rahmat dan pertolongan-Allah, sulit bagiku untuk mendapatkannya. Selain itu, aku juga memang masih sangat mencintainya.

Aku menyesal telah menutup teleponnya secara paksa sebelum selesai dia menjelaskan maksud pertanyaanya tadi. Padahal mestinya aku tidak usah emosi kalau memang aku tidak pernah mengkhianati cinta dan kasihnya, apalagi sampai jalan berdua dengan bukan muhrimku. Ya Allah, hilangkanlah rasa egoisme dan gengsi yang melekat dalam jiwa dan perasaanku saat ini, agar aku bisa menerima maafnya. Agar aku bisa memohon maaf padanya. Aku yakin, dia akan menerima maafku dan memaklumi keadaanku yang sedang emosi. Sifatnya yang pemaaf tidak mungkin membuatnya tetap marah padaku.

Besok dia pasti hadir dalam acara pernikahan temannya sekaligus temanku juga. Aku akan berikan surat permohonan maafku melalui Usman.

***

Wah, ternyata acara pernikahan ini cukup ramai, para undangan cukup banyak yang datang. Pagelaran nasyid cukup semarak, mengiringi makan siang para tamu. Tidak rugi aku menghadirinya. Tapi, kemanakah dia? aku belum melihatnya. “mungkin dia belum datang” gerentes hatiku.

Tiba-tiba, tanpa sengaja mataku tertuju pada dua orang pasangan yang berada pada antrian panjang, untuk menyalami pengantin, “Hah, itu dia, tapi, ya Allah, siapa laki-laki yang bersamanya”. Melihat pasangan itu, seketika tubuhku mendadak menjadi panas dan bergetar. Tanganku mendadak membundal kepal. Napasku mendadak tersenggal-senggal. Hampir aku tidak dapat mengontrol emosiku dan berlari serta meggedorkan kepalan keras tanganku pada wajah lelaki yang berada disamping wanita itu, atau menyarangkan Tendangan Langit dan Tendangan Pisau kungfuku kearah dada dan perut pria yang berdampingan dengan wanita itu, atau bila perlu kuajak berduel sampai salah satu dariku tak dapat berdiri dan mendampingi wanita itu, dialah wanitaku.

Hhmm, berarti penglihatanku saat itu benar adanya, dia berjalan bersama lelaki lain. Sungguh tak kusangka dan kuduga, dibalik keiffahan dan kelembutannya yang selama ini tidak ku ragukan, ternyata hanya didepanku belaka. Kecintaan dan kesetiaannya yang selama ini kuyakini hanya builshit. She’s lier. Sekarang hati dan seonggok harapanku telah hancur berkeping-keping. Wanita yang kupercayai tuk memegang cinta kasih dan kesetiaanku, kini telah berkhianat dan pergi. Tak meninggalkan walau hanya separuh napasku. Ya Allah, kuatkan hati dan bathinku menerima kenyataan ini. Kuatkan jiwaku agar tidak menyakiti dia dan laki-laki itu dengan ke­marahan­ku yang kini membuncah dan menggelora memenuhi seluruh nadi darah mudaku.

“Eh, saya cari-cari ternyata Akang ada disini” tiba-tiba Usman sudah berada disampingku dengan sebuah amplop surat putih di­tangan­nya. Segera ku sembunyikan kegeraman dan kekecewaan hatiku. Ku­perbaiki raut wajahku serta ku lemaskan kepalan tangan bajaku yang sejak tadi keras membatu.

“Iya, Akang baru datang, Usman lagi ngapain? Kok nggak sama Teteh?” kupaksakan untuk mengulum senyum dan balik bertanya pada Usman.

“Oh, Teteh tadi lagi sama paman. Tuh Teteh lagi menyalami pengantin” jawab Usman sambil menunjukkan lurus telunjuknya kearah pasangan yang sejak tadi jadi perhatianku, sekaligus penyebab kekecewaan dan kemarahan bathinku.

“Hah, jadi, yang sama teteh itu paman Usman?” pertanyaanku terlontar kaget.
“iya, itu paman Usman yang baru datang dari Jakarta seminggu yang lalu. Teteh belum sempat beritahu Akang. Kenapa Kang? Cemburu yah? Hehe...” tawa dan pertanyaan Usman membuatku tersipu malu. Mungkin rona wajahku akan terlihat memerah bila seandainya ku bercermin sekarang.

“Ah, kamu, tahu apa tentang cemburu? Kamu masih kecil, belum waktunya” jawabanku terlontar teriring senyum yang kini mendadak bisa ku ukir tanpa keterpaksaan.

Jawaban Usman mengungkap hakikat kecemburuanku selama ini. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, atas bantuan-Mu, kesalahpahamanku telah terjawab.

***

Setelah pulang dari acara pernikahan, aku langsung membuka surat yang kuterima dari Usman. Ku baca kata demi kata isi surat itu. Isinya tidak terlalu panjang, hanya ada serangkaian kalimat yang berada diantara dua tanda petik, yang kuulang-ulang membacanya, untuk memahami makna yang terkandung didalamnya. Abringan kalimat itu laksana seteguk air di tengah padang pasir. Dapat memadamkan panas kehausanku sekaligus kemarahanku yang sudah mulai mereda. Antrian kata-kata itu:

“Rosul juga pernah marah, marahnya Rosul berdasarkan KECINTAANNYA terhadap umat, begitulah marahku SAAT ITU. Hatiku TIDAK BERUBAH. MAAFKAN AKU!!!”

Di pinggiran kota Tunis
Ulpa®18 Maret 2006





Ketika Cinta Berpihak

Tepat pukul 12.30 terdengar suara adzan dari mesjid yang tidak begitu jauh dari rumahku. Suara panggilannya yang mendayu merambat masuk ke relung hati dan mampu menggerakkan tubuhku yang semenjak tadi duduk terpaku. Aku langsung menunaikan kewajibanku yang satu itu, kebetulan aku sudah berwudlu sebelumnya. Setelah selesai shalat dan berdoa, aku langsung angkat kaki menuju warnet. Tujuannya tiada bukan, buka mail dan chating. Aku jarang mengajak chating, kecuali hanya orang-orang tertentu saja, seperti adik kandungku. Tapi hari ini aku chating bukan dengannya, melainkan dengan ‘sang bidadari’ yang telah ku ajak via sms, malamnya. Siapa lagi ‘sang bidadari’ itu kalau bukan Sari Siti Sholehah. Mungkin kalau dibahasakan anak gaul sekarang, istilahnya ‘janjian’ atau ‘ngedate’ atau nggak tahu apa lah.

Udara saat ini terasa tidak terlalu dingin, karena musim dingin sudah mulai minggir, tersingkir oleh musim semi. Langitpun terlihat cerah tanpa mega mendung yang biasa sering menggelayutinya pada puncaknya musim dingin kemarin. Mendungnya mega itu akan membuahkan hujan. Meskipun terkadang logika ‘mendung’ pertanda ‘akan turun hujan’ tidak selalu tepat. ”Mendung tak berarti hujan”, itulah lirik lagunya:-).

Ku berjalan cepat, bahkan terkadang berlari kecil agar aku bisa sampai dan online tepat waktu sesuai janjiku, pukul 13.00 WK (Waktu Tunis).

Pukul 13.00 kurang 300 detik aku sampai di warnet. Ku duduki salah satu kursi kosong yang berada di depan komputer, dari dua belas kursi yang ada di Warnet Word.

Segera ku buka YM (Yahoo Messenger). Setelah ku isi ID dan password, terbukalah sederetan nama-nama id teman-temanku yang tertera pada list. “Ah id dia tidak menyala” gumamku dalam hati, setelah melihat id ‘sang bidadari’ tidak terlihat menguning. “Mungkin dia belum datang, sebentar lagi dia pasti datang, sekarang mungkin masih diperjalanan pulang dari kuliah. Sesuai dengan janjiannya, dia akan chating setelah pulang kuliah” lanjut celoteh batinku lagi.

Tiba-tiba sebuah message muncul dilayar komputer yang aku tongkrongi.“Assalamu’alaikum”. Hah itu id dia. Hatiku bersorak gembira karena yang ditunggu sudah datang dan menyapa.

Jari-jari tanganku yang sudah hapal tombol-tombol keyboard segera mengetik cepat, “Wa’alaikumussalam. Dah lama nunggu yah?” tanyaku.
“Baru, kirain ana terlambat”
“oh nggak, pas kok sesuai janji” jawabku lagi.
“baru pulang kuliah?”
“iya”
Tanya-jawabpun terjadi antara aku dan dia, hampir dua jam sudah kuhabiskan. Banyak pertanyaan yang aku lontarkan.Segala unek-unek hati aku sampaikan pada ‘sang bidadari’ itu.

Hingga akhirnya terlontarlah pertanyaan yang sangat privasi, “Sari, dulu Kk pernah mengatakan sayang padamu, apakah Sari masih ingat dengan kata-kata Kk itu?”
“Iya, Sari masih ingat”
“apakah Sari masih ragu dengan kata-kata kk? ”
“nggak,Sari ngak meragukan kata-kata kakak itu”. Mendadak hatiku menjadi dag-dig-dug. Ada kegalauan yang bergejolak dalam batinku. Ketika membaca kata-katanya.
“Klo begitu, apakah Sari masih ragu untuk menjawab pertanyaan kk dulu?” hatiku semakin galau, ketika kuketik pertanyaan ini.
“kakak ingin jawabannya sekarng?” tiba-tiba dia balik bertanya.
“ya, kalo jawaban itu sudah siap lahir bathin, menjawab sekarang itu lebih baik”
“kalau sudah dijawab, kakak mau apa?” ups, pertanyaan dia kali ini membuat hatiku tersentak kaget. Jangan-jangan dia marah akan pertanyaanku. Jangan-jangan dia tidak setuju dengan pertanyaanku. jangan-jangan...
Ah, aku tidak habis akal, ku lontarkan balik pertanyaan­nya,”Sari maunya apa?”
Agak lama dia tidak menjawab, mungkin tertegun ketika membaca pertanyaan balik dariku.
“kakak tidak akan menjadi” tiba-tiba kalimat itu muncul. Hah, hatiku tersentak kaget, lebih kaget ketika membaca pertanyaan dia yang tadi. Bahkan kalimat ini mampu membuat sekujur tubuhku mendadak terasa panas. Kalimat ini mampu membuat jantungku berdetak sangat cepat, seperti habis lari marathon. Pikiranku sudah berprasangka buruk dan pesimis. Mungkin arti jelas kalimat itu adalah, “kakak tidak akan menjadi kekasih Sari”. Itu adalah penolakan halus, yang berarti cintaku ditolaknya. Cintaku tidak terbalas. Aku hanya bertepuk sebelah tangan.Hmm sedih dech:-(.

Aku coba menenangkan hati dan pikiranku yang galau, segalau ombak lautan di pantai Jerba sana. Setelah sedikit tenang, jari-jariku kembali mengetik.
“Kakak tidak akan menjadi? Bisa dijelaskan lagi maksudnya!” permohonanku padanya.
“Rahwana” jawabnya singkat. Ketika mataku membaca nama tokoh wayang ini, seketika pikiranku melesat jauh kebelakang. Menembus ruang dan waktu yang telah lalu. Menengok file-file yang telah tersimpan di memori otakku. Iya, aku ingat coretanku tentang tokoh Rahwana ini yang pernah ku kirimkan kepadanya dulu. Dicoretan itu kusebutkan bahwa Rahwana ditolak cintanya oleh Srikandi yang cantik. Apakah kata-kata dia ini berarti cintaku diterima? Belum pasti.
“apakah ini berarti Sari menerima Kakak? Kakak takut salah mengartikan, karena selain tokoh Rahwana, ada tokoh lain pada tulisan Kakak itu” kulontarkan pertanyaan untuk meyakinkan.
“Apakah kakak belum paham?”
“Kakak takut salah memahaminya” tanyaku ingin penjelasan.
“Iya. Jawaban Sari sesuai dengan mimpi kakak tempo dulu” lagi-lagi kata-katanya ini mengingatkan pada mimpiku tiga bulan silam. Tentang coretan mimpiku yang kukirimkan pula padanya. Di mimpi itu dia mengatakan dengan lantang, "Terus terang saja, nama Kakak sudah mendapatkan tempat istimewa di hati Sari, nama kakak sudah terlukis indah di sanubari Sari, tidak ada nama lain lagi di hati ini selain nama Kakak, sekang Sari sudah benar-benar yakin dengan pilihan Sari". Kata-kata inilah yang membuat aku merasa lega.

Spontan hatiku berubah. Semula yang galau tak karuan menjadi sangat gembira, senang dan berbunga-bunga. Hawa panas yang tadi mengalir di sekujur tubuhku, kini menjadi sirna. Ya, aku sangat gembira dengan jawaban ‘iya’ dari Sari. Hampir tak dapat ku tahan ketika mataku ingin mengalirkan air kegembiraannya.

Hari ini (Rabu,010306) pas dengan hari ke­lahir­anku, akan menjadi salah satu hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Bidadariku, aku akan selalu mencintai dan menyayangimu. Aku akan setia. Percayalah!!!

Dipinggiran kota Tunis
Coretan hati yang kini berseri
Ulpa® 1 Maret 2006

Doa yang Terkabul

Malam yang kelam ditemani oleh udara yang mencekam tak dapat memaksa Hasan agar tetap berselimut dan menikmati mimpi indahnya. Hasan sudah terbangun. Dia singkapkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Matanya menoleh kesamping dimana terjulur sesosok tubuh yang masih tertutup selimut, Asti. Dipandanginya wajah Asti yang terlihat masih terpejam pulas. Ingin dia membangunkannya untuk sama-sama bersujud, “ah... baru jam setengah empat” terdengar Hasan seolah berbisik pada dirinya sendiri setelah melihat jam dinding yang melekat pada tembok kamar, tidak jauh dari hadapannya. Dia urungkan niatnya tadi. Ditemani sinar lampu tidur yang temaram kedua bola mata Hasan kembali menatap wajah Asti yang tetap tak bergeming. Seakan tidak pernah merasa kalau wajahnya sedang di’awasi’.

Hasan selalu menemukan kesejukan dan ketenangan dalam hatinya setiap dia memandang wajah itu. Sejuta peluh dan kepenatan akibat pekerjaan kantor yang menggunung, seketika akan hilang bila sudah melewati pintu masuk rumahnya, karena wajah itu selalu menyambutnya dengan ramah. Senyuman yang terukir diwajah itu dapat membuatnya kembali tersenyum dan seakan melupakan setumpuk pekerjaan kantor. Hasan merasa seorang yang sangat beruntung dan bersyukur sekali, karena telah diberikan disisinya seorang Asti.

Asti sebagai pengajar di salah satu smp pavorit di Jakarta adalah istri tercintanya, baru lima bulan mereka menikah. Selain karena wajahnya yang ayu, penampilan kepribadiannya yang alami, islamy dan sederhana. Itu yang menyebabkan hati Hasan bergetar dan tersedot oleh pesonanya.

Kisah perjumpaannya. Lima bulan yang lalu. Ketika itu hari minggu. Hasan sedang belanja ‘aksesoris’ dapur, salah satu rutinitas mingguan­nya. Hasan memang selalu meminta pada ibunya agar dia yang membelikan barang-barang dapur. Dengan membawa ‘catatan’ dari ibunya, Hasan berangkat ke pasar. Tanpa sengaja dia melihat Asti yang juga sedang belanja. Spontan hatinya bergetar. Ada perasaan lain yang mengalir bersama darah mudanya, memenuhi setiap nadi tubuhnya. Asti yang ketika itu mengenakan jilbab panjang putih yang hampir menutupi tubuhnya, dengan baju longar dan rok hitam. Terlihat dia bersama seorang anak laki-laki seusia kelas lima SD yang kemudian Hasan mengetahuinya bahwa itu adalah Ahmad, adik kandung Asti. Hasan mencoba untuk mendekatinya sekalian membeli bawang yang ketika itu Asti juga sedang belanja bawang merah. “Assalamu’alaikum” dengan sedikit senyum Hasan memberanikan diri menyapa Asti. Wajah Asti berpaling mengarah kepada sumber suara, “Wa’alaikumussalam” Asti menjawab diiringi dengan tundukan kepalanya ketika bertemu pandangan dengan Hasan. Semenjak ‘insiden’ itu, pikiran hasan selalu dibayang-bayangi oleh wajah Asti. Jilbab putihnya selalu ia ingat. Tundukkan wajahnya ketika bertemu pandangan selalu terkenang. Memaksanya untuk mencari informasi dan keterangan yang lebih banyak tetang Asti. Yang akhirnya berhasil dia jadikan sebagai ‘teman hidup’nya dalam mengarungi samudra kehidupan.

Hasan yang bekerja sebagai menejer di salah satu perusahaan ekpor-impor jakarta-kualampur selalu berangkat pagi dan pulang sore, bahkan terkadang pulang malam.

Biasanya mereka bangun pukul empat, satu jam sebelum shubuh. Shalat tahajjud, hajat dan berdoa bersama menjadi jadwal tetap kegiatan mereka berdua menjelang shubuh. Dari ba’da shubuh Asti sibuk masak dan beres-beres untuk mem­persiapkan sarapan pagi dan segala sesuatu yang dibutuhkan Hasan. Dia tidak pernah telat mempersiapkannya. Sebelum dia berangkat kesekolah untuk mengajar.

Hasan juga seorang suami yang tidak egois. Mencuci pakaian bahkan ‘terjun’ ke dapur sering ia lakukan. “Ngak apa-apa, kalo hanya cuci piring mah aa juga bisa hehe...” itulah jawaban Hasan jika Asti melarangnya untuk terjun ke dapur.

Asti pulang lebih dulu dari Hasan. Setiap Hasan pulang, Asti pasti menyambutnya dengan senyuman yang selalu terukir indah diwajahnya. Asti memang selalu menyambut Hasan dan melayaninya dengan penuh rasa ikhlas dan kasih sayang. Tidak pernah dia menolak apa yang diinginkan dan diperintahkan hasan kepadanya. Hasan tidak pernah mendengar keluh kesah yang keluar dari mulut Asti. Ia seakan tidak pernah menemukan masalah dan beban dalam rumah tangga, mendampingi hidupnya. Membuat cinta kasih Hasan terhadapnya terus bertambah. Terus berkesinambungan.

Selama ini dia hidup bersama Asti. Belum pernah dia rasakan sesuatu dari Asti yang dapat membuatnya kecewa ataupun marah. Selama ini, dia benar-benar merasakan Asti adalah pilihan Allah sekaligus nikmat terbesar-Nya yang diberikan kepadanya. Asti adalah istri sholehah. Hasan tidak pernah membayangkan kalau dia akan mendapatkan seorang Asti. Dia sangat bersyukur karena doanya yang selalu dipanjatkannya dalam keheningan malam semasa bujangan, ingin mendapatkan istri sholehah, telah dikabulkan Allah.

Hasan menyudahi pandangannya yang dari tadi terus melekat di wajah Asti. Setelah membetulkan selimut Asti yang sedikit terbuka, diam-diam Hasan turun dari tempat tidur, laksana langkah seorang pencuri, Hasan melangkah dengan mengendap-mengendap. Dia takut kalau gerakannya dapat mengganggu dan membangunkan tidur istrinya.
“Hhhmmm...Aa” tiba-tiba terdengar suara Asti membuat Hasan tersentak kaget. Seketika Hasan menghentikan gerakannya dan berbalik. Terlihat Asti sudah duduk menatapnya, matanya yang bulat dan jernih tampak indah tersorot sinar lampu tidur yang temaram. Walaupun bangun tidur, senyumnya tetap manis dan menarik. "Eh, dah bangun Neng, tadinya aa mau bangunkan setengah jam lagi, sekarang baru jam setengah empat lebih” kata Hasan dengan lembut.
“Oh...ngak apa-apa Aa, kita tahajud sekarang aja”
“Siang Neng kerja capek, harus istirahat cukup, lumayan setengah jam lagi” Hasan kembali menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.
“Nggak apa-apa Aa, Neng sudah kenyang tidur kok” jawab Asti sambil mengulurkan tangannya kearah Hasan, manja. Hasan mengerti yang diinginkan buah hatinya. Dia tidak bisa memaksanya lagi. Dia menarik tangan istrinya dan meng­gandeng­nya mesra untuk berwudlu. Mengisi keheningan malam dan mengawali kegiatan siang dengan bersujud bersama pada Yang Maha Pemberi segala kenikmatan.

Di pinggiran kota Tunis yang
tiris
Ulpa® 23 Februari 2006





Biarkanlah Dia

Pagi itu, Nurdin terlihat lesu. Kebiasaannya mempersiapkan sarapan pagi jam sembilan, tidak ada lagi. Persiapan pagi untuk berangkat kuliah, tidak terlihat lagi. Dia hanya duduk diatas kursi dan termenung dalam, seperti sedang menghadapi pertanyaan ujian yang sulit sekali untuk dijawab.
Tidak terlihat ada buku di atas meja yang berada didepannya, yang biasa menemaninya setiap pagi. Juga tidak terlihat segelas kopi susu, yang biasanya dia nikmati sambil membaca bukunya beberapa menit sebelum berangkat kuliah. Sesekali dia hembuskan napasnya panjang, lalu berulah seperti semula. Termenung.
Parman yang sedari tadi memperhatikan sikap membatunya Nurdin, penasaran dan melangkah mendekatinya.

“Din...ada apa sih? Dua hari ini aku lihat, sepertinya kamu punya masalah berat?" pertanyaan Parman hanya dijawab dengan diaman dan bisuan. Sikap dingin pada Nurdin tidak berubah. Diam seribu basa.

“Din...seandainya ada masalah, cobalah curhatkan padaku. Mungkin aku bisa bantu” pertanyaan parman kembali dilontarkan. Namun tetap, Nurdin masih mematung.

“Aku kira...kamu punya masalah dengan Sari yah? Maafkan aku kalo salah tebak” Parman mencoba memancing pembicaraan. Agar Nurdin buka mulut.

“Huuh...” Nurdin menarik napas panjang, seakan habis angkat berat atau habis berjalan jauh.
“Iya Man...Aku punya masalah. Tentang Sari” rupanya pancingan Parman tadi berhasil mengail masalah yang ada di kedalaman hati Nurdin. Sehingga Nurdin buka mulut.

“Masalah apa? Apakah dia menghianati cintamu?”
“Bukan menghianati, karena dia juga belum tentu suka aku"
"lalu?"
"Sampai saat ini dia belum menjawab pertanyaanku. Kadang aku berpikir, kenapa dulu aku mengungkapkan perasaan hatiku pada Sari"
"Maksud kamu? Pertanyaan apa?" Parman bertanya ingin yakin dengan maksud yang dikatakan Nurdin.
"Huuh..." Kembali Nurdin menghela napas panjang, tidak langsung menjawab pertanyaan Parman.
"Sebanarnya, aku tidak mau kamu mengetahui masalah pribadi­ku, namun, mungkin kamu bisa membantu memberikan solusi buatku"
"Nah begitu dong, cerita, mungkin aku bisa bantu kamu. Apa yang mesti aku lakukan?" sergap pertanyaan Parman dengan penuh semangat.
Lalu Nurdin menceritakan kisah hatinya sekaligus problem yang dihadapinya pada Parman. Parman terlihat sangat serius mendengarkannya. Sesekali Parman berdecak kagum atas cerita Nurdin. Akhirnya Nurdin mengakhiri ceritanya.
“Nah begitulah Man, ceritanya”
“Ohh...Unik juga cerita cintamu itu Din. Jadi kamu belum pernah pacaran dan Sari ini cinta pertamamu sekaligus wanita pertama yang kamu tanyai?”
"Ya begitulah Man kira-kira" jawab Nurdin singkat, tanpa senyum.
“Hhmm...sebentar, kenapa Sari belum jawab pertanyaan kamu?” Gumaman Parman seolah tak sadar. Dia telah bertanya dan hendak menjawab pertanyaannya sendiri. Nurdin yang tadi tetap duduk tertegun, terlihat, ada senyum di bibirnya, melihat perbuatan Parman yang sok serius itu.

“Apa Man? Sudah dapat jawabannya? Sebab Sari belum menjawab?” desak Nurdin tak sabar.
“Banyak kemungkinan Din, bahkan menurutku bisa ada tiga kemungkinan”
“Apa kemungkinan-kemungkinan itu Man?” dari raut wajah Nurdin terbersit sebongkah kepenasaran.
“Tapi sebelum aku jawab, kamu harus janji dulu untuk tidak marah”
“Ok...aku tidak akan marah”
“Janji?”
“Ok aku janji”
“D’Accord?”
“D’Accord”
Kedua pemuda itu serempak berdiri melakukan ‘perjanjian bilateral’. Seperti yang dilakukan dua pendekar china yang di film-film kungfu, mereka berdiri dan bersalaman erat kemudian duduk kembali.

“yang pertama. Mungkin dia sudah punya pacar, jadi dia bingung untuk menolak kamu” Parman mengawali prediksinya.
“Bingung kenapa?” Pertanyaan Nurdin cepat, seakan kaget dan ter­sentak.
“Ya mungkin dia takut kalau kamu marah atau bisa membuat konsentrasi kuliah kamu buyar”
“oh gitu ya?” Nurdin menjawab dengan iringan senyum. Walaupun hanya sebundal senyuman yang dipaksakan, namun dapat membuat Parman merasa aneh dan bertanya.
“kenapa kamu Din? Kok mendadak tersenyum?”
“Aku hanya ingin tersenyum aja, merasa lucu. Kalo memang Sari tidak segera menjawab pertanyaanku karena takut aku marah atau konsentrasi belajarku buyar, itu salah besar Man. Aku sadar dan yakin betul dengan Takdir Tuhan. Aku tidak akan demikian, aku akan tetap semangat mengejar cita-citaku” bantahan Nurdin penuh kemantapan.

“Iya...aku percaya padamu, tapi kan Sari belum tahu kalo kamu akan demikian. Makanya, sebaiknya, kamu sampaikan sikap dan komitmen kamu itu kepada Sari, agar dia paham dan tidak ketakutan, sehingga dia mau menjawab segera pertanyaanmu” Parman berusul.
“Iya nanti akan ku sampaikan deh. Terus kemungkinan yang kedua?”
“Kemungkinan yang kedua, menurutku. Sari itu benar-benar ingin menyelesaikan kuliahnya dulu, jadi kamu harus bersabar menunggu dia”
“Man...Aku bukan mengajak dia menikah, tapi aku hanya minta jawaban Iya atau Tidak? Masak jawab gitu aja aku harus nunggu dua tahun? kalau aku mengajak nikah, boleh lah aku menunggu dua tahun lagi. Lagian aku juga sekarang masih kuliah, nggak mungkin aku nikah sekarang” Nurdin berapi-api memahamkan maksudnya kepada Parman. Dengan suara yang tegas dan lantang.
“Eeh Din...Aku bukan Sari, aku Parman. Jangan berapi-api gitu dong, kayak orang mau demonstrasi aja. Biasa aja!" Parman menyadarkan Nurdin yang seakan lupa bahwa yang berada dihadapannya adalah Parman, bukan Sari.
"Oh iya...Sorry Man, aku terlalu semangat"
“Hehe...nggak apa-apa, aku paham kok, aku pernah seperti kamu juga Din. Menunggu. Jadi akupun merasakan kepenasaran dan kadang kekesalanmu”
“Syukur deh kalau kamu paham. Terus kemungkinan yang ketiganya?”
“Kemungkinan ketiga. Bisa jadi Sari itu memang masih menimbang-nimbang dan bisa jadi masih istikhoroh untuk memilih calon pendamping hidupnya. Karena menurut buku yang pernah ku baca. Tidak mudah bagi seorang cewek untuk menerima dan menolak laki-laki. Apalagi Sari, yang menurut cerita kamu, sari itu sholehah, cantik dan baik. Aku yakin, seorang Sari, bila sudah menerima seseorang pasti dia akan setia sampai akhir hayatnya. Jadi dia tidak mau asal-asalan menjawab Iya atau Tidak kepada seseorang, termasuk kepada kamu. Nah, kamu harus bersabar menunggu jawabannya” dengan tenang dan panjang lebar, Parman menerangakan prediksinya kepada Nurdin. Sikapnya mendadak seperti Psikolog kawakan yang menjelaskan kepada seorang ‘pasien’.
“Iya sih...aku juga paham. Tapi, sampai kapan aku menunggu? Masak sih aku harus nunggu dua tahun hanya untuk kalimat Iya atau Tidak"
"Ya...tunggulah satu atau dua bulan lagi, ku kira cukup untuk Sari istikhoroh dan meyakinkan hatinya untuk memilih"
"kalo setelah dua bulan belum menjawab?"
"Ya...Tidak ada solusi lagi, kecuali kamu harus berusaha melupakan Sari. Dan kamu harus tetap berpikir positif manakala cinta kamu tak berbalas. Karena menurutku, belum tentu kamu akan memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kamu pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari”.
“Din... Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Tuhan Maha Pangatur, Dia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan. Be positive thinking aja! Suatu hari kelak ketika kamu telah menikah dengan orang lain –bukan dengan Sari- niscaya kamu takjub dengan kebahagiaan yang kamu rasakan. Percayalah! Banyak orang yang telah merasakan hal demikian" Parman panjang lebar menghibur sekaligus memberi pemahaman pada Nurdin. Sikap dan tutur bicaranya yang sejak tadi seperti seorang pskilog kawakan nampak lebih jelas. Dengan deretan kalimat-kalimat yang sarat makna. Mampu membuat Nurdin sadar dan menerima.

"Oh gitu ya Man" Nurdin kembali menunduk lesu, seakan tidak terjadi apa-apa sejak semula.

“Din...perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Tuhan ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia, bukan onggokan daging dan tulang belulang saja. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa. Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat ditolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan kamu, bahkan akan meningkatkan kepekaanmu pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah manusia seutuhnya” kembali kata-kata Parman terlontar panjang, membuat Nurdin benar-benar sadar dan menerima.

"Din...Wanita bukan Sari aja. Sari menurut kamu adalah yang terbaik, tetapi belum tentu menurut Tuhan. Lagi pula, aku yakin, kalau kamu mau dan berani, tidak sulit hanya untuk mendapatkan seorang cewek cantik bahkan lebih cantik dari Sari sekalipun”
Tiba-tiba saja, secepat kilat tangan Nurdin yang kekar, memukul keras meja tebal yang ada dihadapannya. Serta merta menimbulkan bunyi yang mengagetkan, brakk... Parman yang dari tadi mengumbar kata spontan loncat kebelakang.

“Man...tolong jangan samakan aku dengan orang lain, bahkan dengan kamu sekalipun! Bolehlah kamu gonta-ganti pacar, tapi tidak untuk diriku. Kamu menilai cewek karena kecantikannya, tapi bagiku kecantikan bukan segalanya. Hatiku tidak bisa seperti itu. Hatiku teguh, kukuh, seteguh karang” Nurdin yang tadi seakan terhipnotis oleh kata-kata Parman mendadak ‘panas’ dan marah. Parman telah menyamakan dirinya dengan playboy menurut versinya. Memainkan banyak wanita. Bergaul bebas dengan lawan jenis.
“Ma...maaf Din, jangan emosi gitu dong. Ingat...seorang yang bijak adalah seseorang yang bisa mengatur derap emosi jiwa dengan logika. Sorry banget Din. Aku tidak bermaksud manghinamu atau mengajakmu berpindah ke lain hati. Ini hanya saranku saja.” Parman berkali-kali minta maaf atas kata-katanya. Dia ketakutan juga dengan ekpresi Nurdin yang keras karena terbawa emosi. Baru dia melihat Nurdin marah seperi itu. Dia tahu siapa Nurdin. Di rumah mereka, Nurdin selain paling berbody dia juga jago kungfu. Tidak ada seorangpun yang berani berhadapan dengannya. Walaupun sikap keseharian Nurdin memang tidak kasar. Tetapi, bukan tidak mungkin di saat seperti ini dia akan berubah. Parman membayangkan bila kepalan tangan Nurdin yang besar dan kekar itu jatuh ke mukanya. Tentunya kalau jatuh ke mukanya, pasti dia akan ‘berkunjung’ ke rumah sakit. Minimal, hidungnya akan berdarah.

“Ok aku maafkan. Tapi, bagaimana usulan kongkrit kamu?” kembali suara Nurdin tenang dan datar.
“Ya...menurutku, kamu juga harus punya komitmen”
“Maksud kamu?”
“Maksudku, ketegasan. Ketegasan dalam bertindak”
“Iya...tolong dijelaskan, agar aku tidak salah memahami”
“Disini kamu harus kuat dan bisa menahan hatimu. Jika memang selama satu atau dua bulan itu Sari belum menjawab. Anggap saja Sari itu memang sudah punya pacar. Agar kamu tidak memikirkan jawaban Sari terus. Dengan begitu menurutku lebih baik"
Terlihat Nurdin terdiam kembali. Cukup lama dia termenung. Tampak jelas gurat­an-guratan pada keningnya. Tangannya yang kekar memeras rambutnya yang gondrong.
“Ok lah Man...usulanmu aku terima. Aku akan coba menahan hasratku pada Sari. Aku akan biarkan saja seperti biasanya. Semoga ini jalan terbaik bagiku. Terima kasih atas usulannya Man. Memang terkadang sebuah keputusan pahit harus diambil untuk menghindari akibat keputusan yang lebih pahit” keputusan Nurdin itu menyudahi duduknya yang semenjak tadi menunggul di ruang tamu tanpa di temani segelas susu ataupun teh. Nurdin langsung angkat kaki dari depan Parman yang masih duduk.

“Eh, tunggu dulu Din, mau kemana?” Parman memanggil Nurdin yang meninggalkannya begitu saja.
“Mau ikut denganku? Ayo kalau mau ikut. Cepetan!!!”
“Emang kamu mau kemana?”
“Ke WC, setoran dulu, hehehehe...Sekalian wudlu”
“Ih,dasar...gue ketipu. Awas loe, gue balas nanti” Hasan kesal, namun diapun gembira, karena dia berhasil menumbangkan kebisuan kawan dekatnya yang beberapa hari tegak kokoh menggunung.

“Barang siapa yang mencari kawan tanpa cela (kekurangan),
maka ia akan tinggal tanpa kawan”

Di pinggiran kota Tunis yang tiris
Ulpa® 17 januari 2006





Antara Dua Pilihan

(Ketika Cinta Harus Memilih)

"Aku sayang kamu, aku mencintaimu. Apakah kamu ada perasaan padaku?"
Rangkaian kalimat itu mampu menyihirku tertegun membatu. Membuatku tak kuasa menggerakkan sekujur tubuhku. Aku bingung untuk menjawab nya. Sungguh-sungguh bingung.
Apakah aku harus menjawab, Ya. Ataukah aku jawab sebalik­nya, Tidak.
Pernyataan ini adalah pernyataan sekaligus pertanyaan Lia padaku yang ketiga kalinya.
Dulu, pertama kali Lia pernah mengungkapkan hatinya padaku. Saat itu aku hanya menjawabnya dengan kata-kata diplomatis, Maaf...Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Beri Aku waktu!
Pertanyaan kedua kalinya juga dengan makna yang sama. Waktu itu kucoba menjawabanya dengan menjelaskan keadaanku yang sesungguhnya,Lia...aku ini orang miskin, aku juga dari keluarga yang­­ tidak berada. Aku hanya seorang pengangguran. Masa depanku belum terbayang. Aku takut kamu akan menyesal bila hidup bersamaku. Dan perjalananku masih lama dan panjang. Namun, dengan semua penjelasanku itu, Lia tidak menjauh dariku, bahkan seakan lebih mendekatiku. Lebih mem­perhatikan­ku. Hingga sekarang.

"Aduh..." ku kernyitkan keningku. Kini terasa kepalaku mulai pusing. Perutku mulai ke­roncong­an, karena dari pagi belum ada nasi yang mampir di perutku. Seluruh ruang pikiranku masih penuh sesak dijejali kebingungan untuk menjawab pertanyaan Lia. Ah...Kenapa pertanyaan ini sangat sulit kujawab?

"Kok diam aja sich...nggak jawab pertanyaanku?" Setelah selusin menit, kembali pertanyaan itu muncul, seakan-akan keluar menerorku dan memaksaku untuk menjawab. Kalimat itu, membuat seluruh konsentrasi belajarku kabur. Membuat kepalaku bertambah pusing. Selaksa tangan-tangan ghaib seakan memeras keras kepalaku, membuat kepalaku tidak dapat kupaksakan lagi untuk tegak. Ku tutup bacaanku, dan ku­jatuhkan badanku ke atas kasur kecilku yang seketika tak lagi terasa empuk.
Kupandangi atap kamar dan sekelilingnya yang mendadak menjadi suram dan seram. Semua kini terasa menanyaiku. Suasana yang semula hening menjadi bising. Tembok dinding kamarku seakan berkata: Cepat jawab pertanyaannya!! Lemari bajuku seakan marah dan menyuruhku: Cepat jawab pertanyaannya!! Gantungan baju yang dipenuhi jaket dan jeans teman-temanku seakan berkoar: Cepat jawab pertanyaannya!! Kini semuanya me­nyuruh­ku untuk menjawab. Memaksaku. Tanpa komando, bulu kudukku kini berdiri. Menambah seram suasana malam.

Di sela-sela kepeningan kepalaku. Aku teringat pada sebuah nama, Sari. Mojang Sunda yang kini berada nun jauh disana. Ah...mungkin yang dirasakanku sekarang ini sama dengan yang dirasakan Sari. Merasa bingung untuk menjawab pertanyaanku yang kulontarkan sebelum ku pergi mengejar cita-citaku. Sari merasa bingung untuk menjawab ‘hasratku’. Diam-diam hatiku terenyuh dengan apa yang dirasakannya. kini aku merasakan apa yang Sari rasakan. Hhmm...Kasihan Sari.

“Huuuhh” kuhembuskan napasku panjang. Terasa pusing yang mengglayuti kepalaku sedikit mulai pudar. Kucoba mengusir rasa takut dengan berdzikir dan membaca ayat-ayat Al-Quran.

"Kalo kamu nggak suka padaku, bilang aja!!!" lagi-lagi kalimat itu timbul, membuat tambah kebingunganku dan kembali membuat pusing batok kepalaku yang tadi sudah mulai reda. Aku telah terdiam begitu lama. Mungkin ribuan detik sudah kuhabiskan. Hanya untuk memikirkan jawaban pertanyaan Lia.

"Lia...kenapa kau menyukaiku. Mencintaiku. Menyayangiku. Dulu kamu menganggapku hanya sebagai teman. Kenapa sekarang berubah?" Kata-kata itu hanya terlontar dan bergaung dalam hatiku. Tak sanggup ku keluarkan.

Lia memang baik, penuh perhatian dan berpendidikan. Dia jebolan sarjana Bahasa Jepang. Bahkan dia sudah mapan bekerja sebagai tutor Bahasa Jepang di Salah satu perusahaan Indonesia-Jepang. Selain itu, dia juga dari keluarga ter­pandang di desanya. Terakhir, dia juga taat beribadah.
Ku ketahui itu semua, atas laporan dia kepadaku. Masih ku ingat pada bulan Ramadhan kemarin, dia sering memberi motivasi padaku untuk lebih rajin belajar dan beribadah. Dia sering bilang, Aku baru pulang tarawehan. Gimana dengan kamu? Shaumnya? Qiraahnya? Belajarnya jangan malas-malasan yah?!

Ah...aku masih belum dapat jawaban. Aku belum bisa memutuskannya. Kenapa begitu berat untuk membuat keputusan ini. Aku se­karang dilema diantara dua pilihan; antara menerima Lia dan menunggu jawaban Sari atau menolak Lia dan menunggu jawaban Sari.

Kuterus berpikir dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kusadari hidup ini adalah memilih. Memilih diantara dua pilihan. Tuhan telah menciptakan bagi makhluk-Nya dua tempat; Syurga dan Neraka. Dipersilahkan bagi mereka untuk memilih. Tuhan telah menggariskan dua jalan; kebahagiaan dan kesengsaraan. Dibebaskan bagi makhluk-Nya untuk memilih. Tuhan juga telah menciptakan dua penyeru; Para Rosul dan Thogut. Tidak ada paksaan pada makluk-Nya untuk mengikuti satu diantara seruan mereka. Seperti halnya aku sekarang, memilih satu diantara dua; Lia atau Sari.

Sejuta konsentrasi ku kerahkan. Sejuta urat syaraf ku tegangkan. Sejuta asa kufungsikan, untuk menghasilkan jawaban yang ‘tepat’.
Kutanyakan ‘cinta hati’ku, kepada siapa dia berpihak. Kutanya ‘kasih hati’ku, kepada siapa dia menyayang. Kutanya sanubariku, kepada siapa dia mendamba. Akhirnya, ku dapatkan jawaban itu dari ‘kasih hati’ku. Kuikuti jawaban pilihan hati nuraniku.

Dengan berat hati dan linangan air mata. kupijit tombol-tombol keypad ponselku yang dari tadi berada digenggamanku. Kususun rangakaian kalimat. Lalu kupilih Send dari beberapa kata perintah yang tertulis beruntun pada layar Nokiaku.
“Lia...Sungguh aku tak ingin mengecewakanmu. Namun, agar kamu tidak selalu berharap. Dengan berat hati aku harus katakan: Hatiku sudah punya pilihan. Maafkan aku!”

“Delivered!” report itu mengiringi air mataku yang tak terasa telah menganak sungai di pipiku. Hatiku sedih telah mengecewakan temanku. Ini terpaksa ku lakukan demi kebaikannya dan kebaikanku juga. Aku tidak mau munafik dan membohongi nuraniku sendiri.

Di pinggiran kota Tunis yang tiris
13 Januari 2006

Tendangan Bumi

Sebuah kisah buat penggemar Thifan Pokhan:

Kini aku sudah berada di depan pintu rumah Muaz, teman seke­lasku di kuliah. Selain orangnya ganteng, karena dia memang orang Tunis asli, dia juga baik. Kebaikannya membuatku tidak segan-segan lagi berkunjung ke rumahnya, kota Souse. Dari arah rumahku, kota Souse terletak di sebelah selatan Tunis. Dengan menggunakan bis kota, jika tanpa menunggu lama di terminal, satu setengah jam akan sampai ke kota itu. Kota yang cukup indah. Sepanjang jalan yang aku lalui banyak pepohonan yang hijau­ ranau. Keindahannya juga didukung oleh struktur tanahnya yang naik turun. Suasana pedesaan ini mengingatkanku kepada kampung tempat kelahiranku. Desa kecil yang mungil nun jauh disana, Lemah Abang. Bekasi.

Muaz sudah sering mengajakku untuk berkunjung ke rumahnya. Belum genap dua bulan aku berkenalan dengannya, namun sepertinya sudah dua tahun dia mengenalku. Mungkin karena orang Asia yang dia kenal hanya sedikit. Saat ini hanya empat belas orang saja mahasasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Universitas Az-Zaetuna, termasuk di dalamnya, aku. Selain itu, mungkin dia merasa enak bergaul dengan orang Indonesia, yang menurutnya baik-baik. Dia mengira semua orang indonesia baik, karena negara Indonesia merupakan negara yang penduduk muslimnya terbanyak di dunia. Padahal, (kalo dia tahu)orang Indonesia yang jahat juga tidak sedikit. Aku bersyukur, temanku ini tidak tahu kalau negaraku juga berada di urutan ketiga di mata dunia, sebagai penyandang gelar negara yang terkorup di empat benua. Ah... kalau sampai dia tahu dan bertanya kepadaku: “kenapa bisa demikian?” Tentu sangat sulit sekali bagiku untuk menjawab dan menjelaskannya, selain itu, aku selaku salah seorang warga indonesia yang berada di luar negri, tentu akan merasa malu sekali.

Setelah dipersilahkan masuk, aku tidak menunggu Muaz mengulangi ajakannya. Langsung ku masuk dan menjatuhkan pantatku diatas sebuah kursi yang agak lusuh. Terasa kakiku pegal-pegal dan sedikit linu, kerena sudah dipakai berjalan selama satu jam. Sebanarnya, jarak dari terminal menuju rumahnya tidak terlalu jauh, hanya saja, aku tidak langsung tahu arah jalan yang menuju ke rumahnya. Aku harus mengira-mengira dan berjalan ke arah lain sambil menanyakan alamat yang kubawa. Karena, ini pertama kalinya ­aku me­ngunjunginya.
***
Aku duduk dibalkon. Sambil menunggu Muaz yang sedang menyediakan kopi, sebagai Minuman ‘wajib’ yang sudah menjadi tradisi klasik di kalangan masyarakat Tunis. Sebagaimana halnya minum teh di Mesir. Minumanku juga, yang semula tidak luput dari segelas teh, karena sudah terbiasa di Mesir. Kini, sedikit demi sedikit berubah. Aku mulai terbiasa minum kopi susu atau disebut juga direk, istilah beken di cafe-cafe Tunis.

Kunikmati pemandangan kampung yang natural, ditemani desiran ­­angin yang menyapa ramah kedatanganku. Mentari sore seakan ikut menyambut kunjunganku ke kampung itu. Sinarnya yang menerpaku, berhasil mengusir rasa dingin pada kulitku. Menghangatkan tubuhku.

Kusapukan pandanganku ke jalan setapak yang tidak terlalu luas, jalan itu terbentang kentara dari depan balkon. Sesekali ada orang Tunis lewat. Setiap kali orang-orang itu melihatku, pandangannya memancarkan sinar keheranan. "Kok ada orang asing di kampung ini." Mungkin itu yang ada dibenak mereka. Aku hanya tetap duduk dan cuek, secuek bebek. Bahkan mungkin aku lebih cuek.

"Silakan diminum kopinya sebelum dingin!." Tawaran Muaz menghentikan pandanganku menyusuri pemandangan jalan dan sekitarnya.
"Oh…terima kasih"
"Akhirnya kamu mengunjungiku juga, setelah beberapa kali aku ajak kamu untuk berziarah. Aku sangat gembira. Oh iya, bagaimana persiapan ujiannya?, sudah kamu ulang pelajaran-pelajaran selama liburan ini? Selama ini, kamu belum pernah hadir kuliah lagi kan ?" Rentetetan lontaran pertanyaan Muaz menghujaniku dengan bahasa arab fushah. Dia masih memaklumiku yang belum lancar bahasa arab ‘amiyah (pasaran) Tunis. Maklum aku baru dua bulan di negri Ben Ali ini. Ya begitulah sifat dia, bila bertanya tidak menunggu jawaban satu persatu. Bertanya seakan-akan sedang mengiterogasi. Yang membedakan dengan pengiterogasian polisi, iringan senyum yang terlukis di wajah Muaz.

"Ya...dengan secarik kertas alamat yang diberikan kamu, aku berhasil juga sampe kesini, walaupun sempat nyasar. Kalau tidak nanya-nanya dulu, mungkin aku nggak bisa balik lagi ke rumahku dan nggak bertemu kamu. Sulit sekali aku jumpai orang yang mau memberitahuku, dan sepertinya mereka heran dan takut menunjukkan jalan ke kampungmu ini. Dan yang membuat aku lebih heran lagi, tidak ada taksi yang mau mengantarkannku. Itulah yang menyebabkan aku harus berjalan selama satu jam " mulutku nyoroscos menjelaskan. Dengan bahasa Arab fushah yang kadang masih berbau ‘amiyyah Mesir, belum sepenuhnya dapat ku hilangkan.

"Oh sempat nyasar juga?, padahal daerah sini sudah cukup terkenal, bila kamu tanya orang di terminal tempat turunmu dari bis tadi, jarang orang yang tidak tahu."
Sekilas ujung mataku menangkap secercah keanehan tergambar di wajah Muaz. Ada sesuatu yang dirahasiakan. Aku hanya terdiam mendengarkan pen­jelasannya.

"Oh iya..kamu belum jawab semua pertanyaanku tadi. Tentang bagaimana persiapan ujiannya?, sudah kamu ulang pelajaran-pelajaran selama liburan ini? Selama ini, kamu belum pernah hadir kuliah lagi kan ?" Brondongan pertanyaan itu terulangan lagi dari mulutnya.
"Ya sedikit-sedikit aku baca juga pelajaran-pelajaran, untuk persiapan ujian bulan Februari nanti. Yang kutahu dari Dosen, sebelum libur beberapa hari, kita masuk kuliah lagi setelah ‘Idul Adha. Ya..tidak lebih dari seminggu lagi"
“Oh gitu yah..Aku nggak tahu, karena aku sudah meliburkan diri sebelum diumumkannya liburan resmi, karena waktu itu aku ingin cepat pulang kampung”.

Sejenak aku terdiam. Tiba-tiba terbersit dalam hatiku untuk menanyakan kejanggalan orang-orang dan taksi yang aku jumpai di perjalan.
“Oh iya, aku ingin tanya. Kenapa orang-orang yang kujumpai di jalan sepertinya ketakutan menyebutkan atau menunjukkan jalan kesini?, apakah ada sesuatu yang menyebabkan mereka takut?"
Muaz merunduk lesu. Pertanyaanku hanya dijawab dengan tegunan dan diamannya. Aku makin penasaran. Kuulangi pertanyaan yang senada beberapa kali. Sampai akhirnya dia buka mulut.
"Sebelumnya aku mohon maaf, karena tidak memberitahumu jauh-jauh hari sebelum berkunjung ke rumahku. Kampungku ini memang terkenal rawan. Kampungku dikenal sebagai kampung ‘angker’, karena penduduk nya terdiri dari para perampok. Kejadian sebulan yang lalu. Ada taksi yang mencoba meng­antarkan pengunjung masuk. Terjadilah peristiwa yang menyedihkan. Kaca taksi itu hancur karena dilempari oleh anak-anak sini, penumpangnya terluka dan sopirnya lari. Juga satu pekan kemarin, ada orang yang bunuh diri dengan membiarkan dirinya tergilas kereta api".

Sekarang giliranku yang terdiam memantung mendengar penjelasan Muaz. Kerongkonganku mendadak kering kehausan. Padahal sekarang musim dingin. Hatiku jadi bergetar. Ada sedikit rasa takut menyelinap dalam jiwaku.

Huh, tak ku­sangka. Selain (kata orang) adanya komplek khusus bagi ‘para wanita pemuas birahi’, kok ada juga per­kam­pung­an perampok. Kayak di kampung tanah airku saja. Pantas, tujuh buah taksi yang ku stop, tidak ada satupun yang mau mengantar ke tempat tujuanku. Rupanya mereka tidak mau tanggung resiko. Mereka tidak mau bonyok. Mereka pasti ketakutan. Aku bersyukur, ketika aku berjalan tadi, tidak ada yang menodongku atau merampokku.

"Tapi itu satu bulan yang lalu, hari-hari sekarang kejadian perampokan atau penodongan itu sudah mulai lenyap".
"Ya semoga saja yang demikian itu bisa dimusnahkan, karena sangat meresahkan dan merugikan masyarat" jawabanku seakan menenangkan hatiku sendiri yang kini sudah mulai tegar kembali.
***

"Hai Muaz, siapa orang asing itu, suruh dia kesini sebentar!" tiba-tiba saja terdengar keras suara itu tepat dihadapanku yang lagi asyik ngobrol. Terlihat dua orang Tunis. Satu orang bertubuh tinggi besar dan yang satunya lagi agak kurus. Mereka mengenakan jaket dan jeans yang terlihat agak lusuh. Taksiranku, tinggi badan mereka sekitar 170 cm. Mereka berdiri tegak di jalan yang tidak jauh jaraknya dari depan balkon aku berada. Serta merta pe­rubahan drastis terjadi pada raut wajah Muaz, yang tadinya gembira, seketika berubah menjadi pucat pasi kaget dan ketakutan. Genggaman segelas kopi yang ada ditangannya, nyaris terjatuh.

"Eeu..dia, dia temanku" kegugupan Muaz, memperkuat dugaan­ku, bahwa dia benar-benar ketakutan.
"Aku tahu, dia teman loe. Cepat suruh dia kesini" Si Tinggi Besar kembali berkoar. Kumis tebal yang menyilang di atas bibirnya, menambah sangar penampilan wajahnya.

Semula aku berniat untuk pura-pura tidak bisa bahasa arab, agar mereka tidak mengajak berkomunikasi padaku. Namun melihat Muaz yang tertekan dan sangat ketakutan, keberanianku muncul.
"Ada perlu apa denganku?"
"Hah, kamu bisa bahasa arab?" Si Tinggi Besar kaget mendengar pertanyaanku. Dia mengira aku hanya bisa bahasa inggris.
"Iya, kamu mau apa ?"
"Sini turun sebentar, gua ada perlu, atau gua yang naik?"

Aku sudah mengira, dari nada bicara dan kelakuannya yang tidak seperti kebanyakan orang Tunis lainnya, kebanyakan mereka sopan dan menghormati Turis. Dua orang yang berada di depanku bukan orang baik. Mereka bermaksud jahat padaku. Aku khawatir bila mereka naik dan membuat keributan, selain aku tidak bebas bergerak tentunya juga akan membuat ke­kacauan di rumah Muaz, yang kemungkinan besar akan me­nimbulkan kerusakan yang akan merugikan Muaz. Aku berniat untuk menemui mereka. Entah malaikat apa yang menyertaiku. Di hatiku kini tidak ada sedikitpun rasa takut. Mungkin salah satu hal pe­nyebabnya,pengetahuanku akan orang-orang Tunis. Kebanyakan mereka tidak bisa bela diri, kalaupun ada, hanya para militer dan orang-orang tertentu saja. Hal ini disebabkan adanya larangan negara untuk belajar bela diri, seperti; Karate, taekwondo ataupun kungfu. Sedangkan aku, sedikit banyak pernah belajar beladiri, meskipun tidak sampai menjadi Master. Niatku, kalaupun mereka tetap ingin berbuat jahat padaku, inilah waktunya untuk mencoba Thifan Pokhan yang pernah aku pelajari di Mesir selama dua tahun.

Larangan dan pegangan tangan Muaz tidak kuhiraukan. Aku berusaha menyakinkan dan menenangkan Muaz, "kamu tenang saja disini. Percayalah, aku akan baik-baik saja". Aku turun menghampiri mereka.
“Hati-hatilah, mereka gembong perampok kampung sini”.

***
"Mungkin hari ini aku akan adu fisik dengan mereka. Adu fisik yang pertama dalam sejarah hidupku di Timur Tengah." gumaman dalam hatiku. Aku berdiri tegak dua meter dihadapan mereka berdua. Untuk berjaga-jaga. Secara diam-diam aku sudah ­pancangkan kuda-kuda sejajar Thifanku.
"Ada apa?" tanyaku tenang.
"Kamu punya handphone?". Nadanya yang kasar dan keras hampir kembali menggetarkan hatiku.
"Iya". Jawabanku seadanya. Aku tidak sanggup untuk ber­bohong. Selain karena larangan ajaran agamaku, juga karena aku paling tidak suka dibohongi. Aku paling benci kepada orang yang berbohong. Kuraba Hpku yang melekat erat di gesperku tertutup jaket.
"Haha...Sinikan Hp dan jam tangan loe. Uangnya juga!" Gelaktawa Si Kumis Tebal yang menggelegar hampir mengusir nyaliku.
"Cepaaat" Si Tinggi Kurus yang tadi hanya tajam memandangku ikut bersungut. Suaranya tidak kalah keras oleh kawannya.
"Maaf..aku nggak bisa berikan itu semua. Hpku sangat kubutuhkan untuk komunikasi. Uangku adalah nyawa ketigaku di negara ini, setelah ruh dan paspor."
"Eeh, banyak omong, kalau nggak diberikan akan gua ambil sendiri sekarang" Si Kumis Tebal benar-benar membuktikan kata-katanya. Dia melangkah cepat mendekatiku. Diiringi dengan ayunan cepat tangannya yang terbang, bak rajawali, menyambar jam tanganku. Aku tidak membatu. Kakiku yang semula sudah bersiap-siap, meng­genjotkan badanku, loncat berpindah tumpuan, sementara tanganku kutarik cepat. "Wuss..." angin jambretan tangan Si Kumis Tebal masih terasa, nyaris mengenai tanganku. Melihat usaha pertamanya gagal. Si Kumis terlihat semakin geram. Dia loncat dan menubruk kearahku. Laksana badak gila. Kedua tangannya dibuka lebar, hendak menangkapku. Lagi-lagi aku hanya loncat dan menghindar. Loncatanku tidak menjauhi Si Kumis Tebal, melainkan mengelilinginya, karena itu prinsip dan gerakan Kungfu Thifan yang aku pelajari.
Terlihat jelas, bahwa orang-orang tunis tidak bisa bela diri. Contoh kongkrit ada dihadapanku sekarang, lawanku. Si Kumis Tebal. Dia hanya punya tenaga dan tubuh yang tinggi besar. Adapun gerakannya, tidak lincah dan tidak teratur. Bila kumau, gampang bagiku untuk menyarangkan tinju hangatku ataupun tendangan memutar kakiku.
Cukup lama aku menghindari serangan-serangan Si Kumis Tebal dengan loncatan-loncatan Thifan. Sesekali kugunakan jurus Loncat Harimau kemudian berdiri kembali dengan Bagun Naga. Sengaja aku hindari tangkisan tangan ataupun kaki. Karena, soal tenaga, jelas dia lebih kuat. Bila kutangkis serangan­nya, aku yang akan bebekbelur.
Cukup lama aku menghindar dan meloncat. Menghindari tubrukan badan Si Kumis Tebal ataupun ayunan tangannya yang menderu. Sesekali kugunakan jurus baling-baling dan kupu-kupu agar lebih cepat menghindari serangan lawanku yang cukup kuat. Akhir­nya tubuh dan kakiku mulai terasa lemas. Napasku juga mulai tersengal-sengal kecapaian. Celakanya, kulihat si Kumis Tebal masih geram dan semakin edan. Belum lagi Si Tinggi Kurus yang masih diam memperhatikan. Dia belum turun tangan dan menghujamkan serangannya padaku.
Niatku yang semula tidak ingin manyakiti ataupun me­mukulnya, kini, kalau aku ingin selamat, aku harus meng­urungkan niatku. Aku harus membuat dia kapok dan jera. Kini aku sedang terdesak. Aku harus memukulnya. Karena kekerasan [terkadang]hanya bisa di­kalahkan dengan kekerasan. Bukankah arogansi kepada orang yang arogan merupakan sedekah. Kalimat itu yang kutahu. Kalimat wahyu yang keluar dari mulut mulia Junjunanku.
"Ciaaat.." deru angin pukulan tangan besarnya Si Kumis Tebal kembali terasa menerpa wajahku. Terlihat dadanya terbuka akibat pukulan yang diayukannya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan, aku melompat kesamping badan di Kumis, menghindari tonjokkannya. Dengan posisi tubuhku yang kumiringkan, kuhujamkan tendanganku.“Bukk..” Tendangan Langitku berhasil kusarangkan pada dada Si Kumis Tebal. “Dukk” tendangan pisauku juga berhasil menoreh perutnya. Hah, dia tidak kesakitan, apalagi menjerit, malah terus menyusul serangan­nya. Aku tidak kalah gesit, kugunakan Loncat Harimauku meggelinding kebelang tubuhnya. Punggung si Kumis Tebal terlihat jelas tanpa penghalang, lagi-lagi kesempatan ini tidak ku lewatkan begitu saja, dengan sekuat tenaga, aku meloncat menggunakan kedua kakiku secara berbarengan. ­”Bukk..bukk” Tendangan Garudaku tepat bersarang di­punggunya.“Eeu...” tendangan kembarku kali ini cukup membuat dia kesakitan. Aku sudah cukup lemas. Aku ingin cepat membuat dia kapok. Aku ingin cepat me­nyelesai­kan pertarungan ini. Dengan sisa-sisa tenagaku, ku sapukan Tendangan Bumiku pada kedua kaki si Kumis Tebal yang masih sempoyongan. “Bret” luar biasa ampuhnya jurus ini, seketika itu juga, Si Kumis Tebal Jatuh tersungkur ke tanah dan tak berkutik lagi.
Ah..tak sia-sia aku belajar kungfu Thifan di Negri Kinanah, walaupun niatnya semula hanya untuk olah raga. Aku belum menggunakan pukulan tangan besiku. Selama ini, tanganku belum mendapatkan sasaran empuk. Hanya dengan beberapa tendangan saja, aku berhasil menjatuhkan Si Kumis Tebal yang congkak dan sok jago.

Seketika Suara seruling bambu Handphoneku menjerit kencang. Menyadarkanku. Aku terbangun. Hmm...Missedcall dari Kairo. Membangunkanku. Astagfirullah...aku bertarung hanya dalam mimpi. Ku ucapkan ‘tuk seseorang di Negri Cleopatra sana, ‘makasih sudah ­mem­bangunkan­ku untuk bersujud, masak dan makan sahur.

Mimpi ini kucoretkan.
Tuk mengenang jasa seseorang di Negri Kinanah sana.

Di pinggiran kota Tunis yang tiris
8 januari 2006 M
8 Dzulhijjah 1426 H











Monday, April 24, 2006

Bidadariku, Kutunggu Jawabanmu

Seperti biasanya, kegitanku di tempat baru plus negara baru. Bagun pukul 4.45 sekedar untuk bersujud dan ‘meminta’. Sambil menunggu adzan shubuh aku baca quran, sekalian mengulang hapalanku yang pernah ku hapal ketika di Mesir. Pukul 5.45 terdengar adzan shubuh, yang setiap kudengar, pasti suaranya seperti itu terus dan tidak pernah berubah. Karena memang di Tunis ini ada istilah adzan sentral, adzan yang hanya dikumandangkan oleh radio pemerintah saja sehingga pengurus mesjid-mesjid lain cukup dengan mengarahkan micropon mesjid pada salon radio, maka terdengarlah adzan dengan suara dan waktu yang sama. Jadi, tidaklah heran kalau semua masjid yang kudengar, muadzin nya sama semua.

"By..by bangun, dah shubuh tuh" tanganku menggoyangkan badan Hasby, teman sekamarku yang masih tidur pulas, tubuhnya yang mengerut seperti kuuk (seekor hewan yang bisa mengerutkan tubuhnya menjadi pendek dan kecil) karena kedinginan. Maklum di Tunis sekarang lagi musim dingin, rasa dingin sangat tajam menembus kulit menusuk tulang.
"Hhmm jam berapa sih?" tanya Hasby tanpa bergeming sedikitpun dari selimutnya. Tetap seperti tadi, seluruh badannya tertutup selimut rapat.
"Udah adzan, udah jam 5.50, ayo berjamaah dulu !" ajakku lagi, kubuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Hasby, laksana ulat keluar dari kepompong. Dengan mata masih terpejam dan langkah sempoyongan, Hasby pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, kemudian kami berjamaah.

« « « *** « « «

"Wah pagi ini masak apa nih Din?, aromanya sampai tercium terbawa mimpi, sampe membangunkan ku" celetuk Ridlo yang tiba-tiba sudah berada dibelakangku, dengan handuk di pundaknya.
"Biasa..Spageti bumbu merah" jawabku singkat, sambil tanganku tetap sibuk mengaduk bumbu (TBC : alias Tomat, Bawang, Cabe) spageti yang telah kurebus terlebih dahulu.
"Oh..sipp lah kalo gitu, yang enak yah !!" jawab Ridlo sambil tangannya iseng mengambil selembar spageti, dan memasukan ke mulutnya yang sudah dia buka lebar sebelumnya.
"Iya..udah sana sholat shubuh dulu, dibangunkan tidurnya kayak bangke aja, makanya klo nge-game jangan sampe larut malam, akibatnya gitu, ketinggalan berjamaah" suruhku lagi, kulemparkan senyumku, agar kata-kataku tidak menyinggungnya.
"Sorry deh, lain kali ngak deh" jawab Ridlo sambil masuk kamar mandi.

« « « *** « « «

"Ayo nyarap-nyarap…By,Dlo,Di,Bal!" ajakku pada Hasby, Ridlo, Hamdi dan Iqbal. Aku tinggal serumah bersama 6 orang temanku. Rumah sewaanku terdiri dari 2 kamar yang lumayan besar, satu kamar diisi oleh 3 orang, dan yang satu kamarnya lagi diisi oleh empat orang, karena memang ukuran kamarnya lebih besar, aku sekamar dengan Hasby dan Iqbal.
"Ayo ah nyarap dulu" sambut Hasby sambil melangkah cepat menuju dapur, diikuti Ridlo dan Hamdi.
" Bal ngak makan?" tanyaku pada Iqbal, yang dari tadi kulihat masih duduk berselimut.
"Nantilah Fren… bentar lagi, masih dingin nih" jawabnya tanpa reaksi, dingin, sedingin udara pagi.
"Dikki dan Parman kemana Dlo?" tanyaku, karena dari tadi aku belum melihat mereka keluar dari kamar.
"Dikki tadi malam ngak pulang, katanya nginep di rumah Fudin, klo Parman masih tidur tuh, belum bangun" jawab Ridlo menjelaskan.
"Parman memang sudah kebiasaan gitu Din, sudah shubuh trus tidur lagi, masih istiqomah dengan kebiasaan Kaironya" timpal Iqbal sambil tertawa renyah tanpa beban.
"Ah si Parman aja yang gitu, ngak semua alumni Kairo gitu kok, buktinya Nurdin ngak gitu, bahkan dia bangun lebih dulu bahkan yang nyiapin sarapan kita, betul ngak By?" timpal Ridlo memujiku sekaligus menyanggah imeg bahwa alumni Kairo sering tidur pagi. Sebenarnya aku juga ingin mengatakan bahwa tak semua mahasiswa Kairo seperti yang dikatakan Iqbal, tapi hanya beberapa orang saja yang demikian, bisa dikatakan hanya berberapa oknum saja, tapi kuurungkan niatku tadi karena Ridlo sudah lebih dulu menyampaikan gerentes hatiku.
"Iya Dlo, pendapatku idem sama pendapatmu" komentar Hasby sambil menghabisi suap terakhirnya dan langsung ke dapur.
"Udahh…Iqbal kan hanya bercanda, gitu aja kok repot" Hamdi mencoba menstabilkan suasana yang mendadak sedikit jadi tegang, sambil mengadopsi kata-kata Gusdur, kontan kamipun tertawa.
"Kuliah jam berapa Bal?" pertanyaanku membuat wajah Iqbal yang tadi seperti tertekan, kontan berubah santai.
"Jam sepuluh, kamu?"
"Aku sebentar lagi, jam delapan"
"Madah (Mata Kuliah) apa Din?"
"Pemikiran Kontemperer" jawabku sambil menyiapkan buku, pensil dan langsung kumasukkan kedalam tas gendong kecilku yang mungil. Tas kecil ini dapat mengingatkanku kepada perjalanan religius sekaligus dapat mengingatkanku ketika aku menjadi ‘pembantu’ Para Tamu Allah. Tas ini kubeli di Saudi Arabia ketika aku diberikan kesempatan untuk Temus tahun 2004 satu tahun yang lalu.
"Ayo semuanya, pamit dulu nih, mau kuli….ah dulu, Assalamu’alaikum" pamitku pada teman-temanku, tanpa menunggu jawaban mereka atas salamku, aku langsung tutup pintu.

« « « *** « « «

"Ayo masuk! Dosennya sudah datang" ajak Muaz teman sekelasku. Dia orang Tunis asli, selain orangnya ganteng, baik lagi. Aku sering melihat catatan dia, karena dia menulis lebih cepat dariku, walaupun begitu kalo tulisannya sih masih bagus tulisanku hehe.. Fakta ini Muaz sendiri yang bilang padaku pada suatu hari, sambil melihat tulisanku dia berkata: "Tulisanmu bagus, kamu kalighrafer yah?" katanya dengan Bahasa Arab Fushah, karena dia sudah tahu, kalau aku belum tahu banyak bahasa arab Amiyah Tunis.

"Beh" jawabku singkat, sambil membuntuti Muaz yang lebih dulu angkat kaki menuju ruangan. Beh bahasa ‘amiyyah nya Tunis yang artinya Ok, Masyi kalo di Mesir.

« « « *** « « «

"Daar…dalem bangaaat yang lagi ngelamun, mikirin siapa sih? Pasti mikirin yang di Mesir ya? Sari Siti Sholehah, iya kan?" tiba-tiba saja suara itu membubarkan sederet lamunanku, membuyarkan segerombolan imajinasiku, kulihat Parman dengan senyum nya yang khas sudah berdiri di sampingku.
"Ah kamu Man, kalo masuk jangan main slonong boy aja dong, salam dulu kek, ngagetin orang aja" kritikku dengan nada sedikit kesal.
"Afwan Din, aku lupa salam, lagian anteng banget ngelamunya. Si Sari pasti suka sama Ente, jangan terlalu dilamunkan" Parman i’tidzar sambil duduk disampingku.
"Eh...jangan sok tahu pikiran orang yah? Siapa lagi yang melamun, aku lagi mikirin masa depanku" apologiku, sambil kubalikkan badanku menghadap Parman yang baru saja duduk.
"Jangan boong ah, pake mungkir segala, boong itu dosa tahu" Parman berdalih sambil tangannya mengambil buku "Kiat Menjadi Suami Idaman" yang tadi telah kubaca sebagian. Memang aku akui, tadi aku sedang teringat pada Sari Siti Sholehah, gadis sunda yang ayu, cantik, pintar dan baik, sesuai dengan namanya dia juga Sholehah, yang beberapa hari menjelang kepergianku ke Tunis aku telah mengungkapkan perasaanku padanya, bahwa aku menyukai dan menyanginya, walaupun dengan perasaan berat dan terasa lidahku mendadak kelu waktu itu, akhirnya aku berhasil mengungkapkan perasaanku, namun dia belum jawab pertanyaanku, katanya sih dia belum bisa jawab sekarang, karena dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak menjawab dulu ‘masalah’ seperti ini. Dan tadi aku melamun, mencoba menerka, kapan jawaban itu akan kudapat. Aku nggak mau Parman mengetahui, bahwa aku sudah mengungkapkan perasaan ku pada Sari, walaupun dia kenal Sari, karena diapun pernah di Kairo.
"Aku ngak boong, tapi benar-benar tadi itu aku sedang memikirkan masa depanku" jelasku sambil mengulurkan tanganku untuk mengambil roti coklat yang terletak di meja belajarku, yang tak jauh dari tempat tidurku yang kududuki. Dalam hatiku berkata: "yang dimaksud memikirkan masa depanku itu, memikirkan calon istriku, yaitu Sari, inikan hanya cita-cita dan keinginanku, aku pikir tidak ada salahnya kalau aku berkeinginan seperti itu, adapun bila takdir Allah tidak berpihak padaku sehingga Sari tidak suka padaku, itu urusan lain. Iya nggak pembaca J ?
"Ya udah terserah deh, yang penting pesananku harus ada, ayo mana?" jawab Parman sambil menegadahkan tangan kanannya, bak seorang peminta-minta di pinggir jalan.
"Oh ya, untung aku ingat, padahal tadi hampir kelupaan, bentar ya..aku ambil dulu" aku berdiri untuk mengambil kartu (pulsa) Tunisiana pesanan Parman, yang kubeli tadi sambil lewat pulang kuliah.
"Nih kartunya"
Tangan Parman menyambar kartu dari tanganku, dalam hitungan detik, kartu Tunisianapun sudah pindah ketangannya.
"Merci ya Din"
« « « *** « « «

Hari yang dinginpun telah berubah menjadi gelap, tanda Sang Malam telah datang menggantikan tugas Sang Siang. Membuat udara semakin dingin. Kulit dan tulang terasa laksana ditusuk oleh jarum-jarum salju yang sangat tajam. Membuat setiap orang lebih memilih berselimut tebal di tempat tidur dari pada keluar rumah, tidak heran kalo di jalan-jalanpun sepi, tak terlihat ada orang yang berkeliaran.
Setelah shalat isya akupun hanya diam di kamar dengan memakai jaket tebal, memindahkan catatan pelajaran kuliah yang tadi siang, agar terlihat lebih rapih. Ternyata kuliah di Universitas Az-Zaytuna-Tunis aku harus bisa menulis dengan cepat dan jeli pendengaran, karena hampir setiap Dosen, mendiktekkan pelajarannya. Berbeda dengan di Al-Azhar-Kairo, Dosen yang mengarang kitab (mukorror), sehingga ketika muhadharah, mahasiswa hanya mendengarkan penerangan mukorror tersebut dari Dosen, hanya sekali-kali saja mencatat bila ada yang penting, itupun kalo keluar dari mukorror tersebut.
Pukul 22.00 mataku sudah lima watt, aku tak kuat menahan Sang Kantuk yang sudah mulai menggelantungi bibir mataku, dia datang lebih cepat, biasanya dia datang pukul 23.00, mungkin karena siang tadi aku terlalu capek; masak, kuliah dan belanja serta mencuci, akhirnya akupun harus menyerah pada Sang Kantuk sebelum habis jadwal waktu belajarku. Setelah kututup dan ku bereskan buku-buku, ku baringkan tubuhku diatas kasur yang sudah di desain hanya untuk seorang, yang lumayan empuk.
"Bismillahirrohmanirrohim, Bismikallahumma ahya wa bismika amut, Ashadu aallah ilaha illallah waashadu anna muhammadarrasulullah, la haula wala quwwata illah billah". Kubaca juga surat Al-Falaq dan An-Nas serta al-Ikhlash, ku akhiri dengan membaca ayat kursi. "Allahula ilaha illah huwal hayyul qoyyum…

« « « *** « « «

"Hah..dimana ini, kayaknya aku pernah kesini" gumamku dalam hati. Kulihat ke belakangku, tampak plang metro anfaq (kereta bawah tanah) bertuliskan Buhust.
"oh iya, ini mahattah metro anfaq, mahattah buhust" gumamku lagi. Kulihat didepanku ada wartel kemudian sebelah kanannya terdapat toko Hp.
"Oh iya, ini Dokki" hatiku gembira, karena aku sekarang tidak bingung lagi, sekarang aku sudah ingat betul. Aku berada di Dokki. Kalo gitu aku langsung ke rumah Pak Subhan saja. Kulangkahkan kaki dengan pasti menuju rumah Pak Subhan.
"Teet…teet…teet" bel yang berada di bawah rumah Teh Tia (istrinya Pak Subhan) ku pijit tiga kali.
"Din?". Kuarahkan mataku keatas, menengok pada sumber suara yang tadi memanggilku. Kulihat kepala Teh Tia yang nongol dari atas jendela.
"Iya Teh" jawabku, sambil bersiap-siap mererima kunci gerbang yang akan dilemparkan Teteh ke arahku. Teteh panggilan sunda yang bisa berarti Kakak atau Tante/Mbak (kalo dijawa). Ku memanggil Teh Tia dengan sebutan Teteh, karena dia sudah menganggapku sebagai adik, dan akupun sudah merasa bagian dari keluarganya. Setelah ku terima kunci, akupun membuka gerbang dengan mudah.
"Assalamu’alaikum"
"Wa’alaikumussalam, kapan pulang Din?" sambut Teteh dengan raut muka yang gembira.
"Kemarin Teh"
"Eh Nurdin, gimana kabarnya Din? Tanya Pak Subhan yang baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, diikuti Yusuf dan Asti, putra dan putri Pak Subhan.
"Alhamdulillah sehat Pak".
"Eh Om Nurdin datang" teriak Asti sambil tak segan-segan lagi merangkulku.
"Eh…Eneng, pha kabar Neng? " sambutku, sambil langsung kugendong anak kecil yang baru kelas 2 SD ini. Dia masih seperti dulu, ketika aku masih di Kairo, jika aku main ke rumahnya, pasti manja kepadaku. Begitu juga dengan kakaknya yang baru kelas 5 SD, Yusuf, dia sangat senang kalo ada aku, karena ada yang nemenin dia main FS2, walaupun aku tidak pernah menang klo main PS2 berlawanan sama dia, meskipun demikian aku senang bila bermain dengan dia, kadang dapat menghilangkan kepenatan pikiranku dikarenakan belajar, atau ada masalah lain, yang tanpa diundang datang menerpaku.
"Mau kemana Pak, kayak mau keluar?" tanyaku, sambil ku duduk dikursi yang susunannya masih seperti dulu hanya warnanya sedikit berubah, sekarang warna hijau itu sudah terlihat pudar. Pantas saja, karena bangku dan semua ciptaan Allah hanyalah sebuah benda, hanya sebatas makhlukNya yang semuanya tidak akan ada yang kekal abadi, seperti halnya wajah cantik, dia akan berubah termakan usia. Ku dudukkan Asti dipangkuanku, karena dia nggak mau turun dari pangkuanku, masih kangen kali yah…
"Kita mau ke Wonder Land, Ucup dan Asti ingin kesana" jawab Pak Subhan menjelaskan.
"Ikut aja Din, sekalian kita makan di luar, Teteh ingin menjamu Orang Tunis" ajak Teteh sambil tersenyum, meyakinkanku untuk ikut.
"Iya Om ikut aja, nanti main mobil-mobilan sama Ucup"
"Iya Om, aku takut kalo main mobil-mobilan sendirian, temenin aku ya? " rajuk Asti, membuat aku tidak kuasa untuk menolak. Tangannya yang lucu, membenarkan kerah bajuku, yang tidak rapi karena memang nggak ku setrika. Memang kadang aku suka berpikir praktis terhadap penampilan: belum punya beubereuh ini, ngak perlu terlalu rapi.
"Iya Pak saya ikut deh"
"Asyiik Om Nurdin ikut" Asti dan Yusuf serempak berteriak menggambarkan kegembiraannya akan keikut-sertaanku.
"Ayo siap-siap dong semuanya". Ajak Teteh pada semuanya.

« « « *** « « «

"Hah apa aku ngak salah lihat, kok si Parman ada disini, lagi ngapain? " hatiku bertanya kaget, ku dekati pemuda yang duduk di kursi panjang dengan pandangannya yang terfokus ke zona mobil-mobilan yang saat itu dipenuhi oleh anak-anak. Tampak jelas pemuda itu adalah Parman, teman serumahku di Tunis.
"Man kok ada disini, ngapain kamu?" tanyaku sambil duduk disampingnya.
"Eh kamu Din, kamu yang ngapain disini?" Parman balik bertanya, terlihat wajahnya kaget melihat kedatanganku.
"Aku tadi ikut Pak Subhan, tapi aku ngak tahu, kemana mereka sekarang. Kamu ngapain?" jelasku sambil balik bertanya lagi.
"Refreshing nih, aku lagi pusing Frend, BT di rumah terus". Aku tambah kaget dan ngak mengerti mendengar jawaban Parman seperti itu, kok BT aja sampe berada disini (Mesir), jauh sekali refreshingnya. Belum hilang rasa kagetku Parman mengajakku main mobil-mobilan.
"Eh…kita naik mobil-mobilan yuk" ajak Parman sambil berdiri, tanpa menunggu persetujuanku dia menarik tanganku. Aku hanya bisa mengikuti tarikan tangannya.
"Tunggu disini sebentar Din, aku beli karcis dulu" jelas Parman sambil pergi menuju loket.
Aku hanya bisa anggukan kepalaku sebagai isyarat persetujuanku, sambil berdiri menunggu karcis yang lagi dibeli Parman, ku lemparkan pandanganku ke sebuah KFC yang tidak jauh dari tempat berdiriku.
"Hah…Sari, apakah mataku salah melihat, astaghfirullah" gumamku setengah tak sadar, karena mataku jelas melihat Sari bersama keluarga Pak Subhan.
"Heh…disuruh menunggu malah melamun, nih karcisnya" ucapan Parman seakan-akan menyadarkanku.
"Man lihat tuh, apakah aku ngak salah lihat?"
"Lihat apa?"
"Itu di dekat KFC" jawabku sambil kutunjukkan lurus telunjukku ke arah Sari dan keluarga Pak Subhan berada.
"Oh itu, kenapa? "
"Apa yang kamu lihat Man" tanyaku lagi penuh penasaran.
"Iya itu…bukankah itu bidadarimu?"
"Iya siapa?" desakku lagi ingin yakin.
"Iya siapa lagi kalau bukan Sari" jawaban Parman pasti, dengan diiringi tawa yang ditahan, karena takut terdengar oleh Sari dan kaluarga Pak Subhan, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berdiri.
Wah kalo gitu aku yakin sekarang, aku ngak salah lihat, yang ada bersama Pak Subhan dan keluarganya itu adalah Sari, Sari Siti Sholehah, wanita yang menjadi dambaanku saat ini, entah esok hari atau lusa nanti, aku tak tahu, karena hati dan jiwaku bukan milikku. Memang kuakui, selama ini aku sedang menunggu jawaban dia atas pernyataan hatiku dulu, yang telah ku ungkapkan pada hari-hari terakhirku menjelang keberangkatanku ke Tunis, sebenarnya aku ingin menanyakan lagi tentang jawaban itu, namun aku khawatir bila aku terus tanyakan lagi, dia merasa tidak nyaman dan mengganggu pikirannya, biarlah waktu yang akan menjawab, ataupun Sari sendiri yang menjawab tanpa adanya pertanyaan dariku lagi. Toh dia sudah berjanji padaku untuk menjawabnya, aku yakin akan janjinya, pasti dia akan tepati.
"Cepat samperin Din, kalau kamu memang suka dia, ungkapkan perasaan hatimu sekarang, ini kesempatan baik Din, Sari memang menurutku juga cantik kok, kamu tidak salah pilih" usul Parman padaku.
Memang kali ini terlihat jelas olehku wajah Sari yang cantik, lembut dan semyumnya yang berseri, karena kali ini dia nggak pake cadar, akupun ngak tahu dan sedikit heran, sejak kapan dia sudah melepas cadarnya.
"Iya nih, aku ingin menghampirinya, antar aku yuk!" ajakku pada Parman.
"Oke deh, demi setia kawan, aku cancel dulu naik bombongkarnya" sambut Parman tanpa tersirat penyesalan di raut wajahnya karena tidak jadi naik mobil-mobilan. Memang teman-temanku semuanya baik padaku, mereka semuanya sangat pengertian dan setia kawan, tak terkecuali Parman.
Akupun mendekatinya.
"Eh kakak, apa kabar Kak?" tanya Sari sambil tersenyum indah saat kuhampiri. Senyuman manis yang terukir diraut wajahnya yang berseri, membuat hatiku semakin yakin dengan pilihanku; dia cantik, ramah, dia juga pintar dan baik.
"Eeu..alhamdulillah sehat" jawabku dengan nada sedikit gemetar. Maklum GR ;-)

"Hah...kemana si Parman yang tadi mengantarku, kok aku hanya berdua dengan Sari begini, kemana Pak Subhan yang tadi bersama Sari" gumamku dalam hati penuh misteri. Aku sangat kaget ketika kudapati aku hanya berdua dengan Sari. Keadaan ini sangat aneh dan terasa janggal olehku, dari sejak pertama kali aku melihat Parman yang berada disini, cukup membuatku tercengang kemudian dia mendadak menghilang, ditambah lagi sekarang, tiba-tiba saja aku menjadi berdua sama Sari.

"Kakak..., Sari sudah pikirkan dan pertimbangkan tentang jawaban itu" tiba-tiba saja suara Sari yang berdiri sekitar satu meter di depanku, menyadarkan ku yang masih kaget dengan keadaan yang kualami sekarang, suara Sari yang lembut laksana air sejuk yang dipercikkan ke wajahku. Menyadarkanku.
"Oh i..iya…jadi gimana? " ucapku spontan.
"Terus terang saja, nama Kakak sudah mendapatkan tempat istimewa di hati Sari, nama kakak sudah terlukis indah di sanubari Sari, tidak ada nama lain lagi di hati ini selain nama Kakak, sekang Sari sudah benar-benar yakin dengan pilihan Sari" dengan lantang dan tegas, penuh kemantapan, ku dengar Sari membeberkan isi hatinya, membuat aku terkaget-kaget dengan tutur katanya yang lancar dan tegas. Tidak seperti biasanya yang pemalu. Terasa ada hawa sejuk yang menyusup ke pendengaranku kemudian hawa itu mengalir ke dalam relung hatiku. Membuat sekujur tubuhku terasa ringan dan melayang. Terbang...

"He Was Muhammaaad Sholallahu ‘alaihi Wasallaaam... " lambat laun terdengar olehku El-Muallim yang dinyanyikan Samy Yusuf. Lama-lama suara itu lebih keras terdengar dekat telingaku, tanganku merayap-merayap mencari sumber suara. Ah ternyata itu suara nokia 6600ku, suara beker Nokiaku, membangunkanku untuk ‘bersujud’.

“Astaghfirullah…ternyata aku hanya bermimpi, pantas saja banyak yang aneh dan janggal yang ku alami, banyak yang nggak nyambung, ternyata hanya mimpi. Ya Allah…seandainya jawaban itu nyata adanya, betapa senang dan gembiranya hatiku, aku akan setia selamanya. Dengan izinMu, kan kujadikan dia pertama dan terakhir bagiku. Bidadariku, kutunggu jawabanmu”.

Kumatikan Beker HP Nokiaku yang telah ku setting 4.45, agar setiap hari berbunyi, membangunkanku untuk bersujud pada Rabbku yang Maha Rahman dan Maha Rohim. Ya Allah aku bermimpi seperti nyata. Aku memimpikannya. Aku memang mencintainya. Ya Allah...semoga cintaku pada makhlukMu tidak mengalahkan cintaku padaMu. Jika dia memang pilihanMu untukku, biarkanlah rasa cinta dan sayang di hatiku tetap bersemi, namun jika dia bukan pilihanMu, hilangkanlah cintaku yang melekat di sanubariku padanya.

Di pinggiran kota Tunis yang tiris,
6 Desember 2005