Cemburu is Jealous
Cemburu is Jealous
“jangan dulu emosi, dengarkan dulu penjelasanku, aku...” belum selesai aku bicara, telpon selularku terdengar tut tut tut, tanda sudah diputuskan oleh lawan bicaraku. Aku hanya bisa menarik napas panjang. Kamarku yang memang tidak besar, terasa menjadi sangat sempit dan pengap pengaruh depresi bathinku yang sedang kecewa, bingung dan tak menentu.
Aku tak habis pikir kenapa dia tega akan memutuskan hubungan ‘bathin’ yang lama telah terjalin, hanya karena sedikit kesalah pahamanku terhadapnya. Kasih sayang dan pengorbananku selama ini seakan tak berbekas. Peribahasa pujangga kemarau satu tahun hilang oleh hujan sehari atau gara nila setitik rusak susu sebelanga, seakan terjadi padaku sekarang. Entitas cintaku selama ini seakan tak dapat membuatnya memaafkanku.
Hampir semua keinginannya aku turuti. Termasuk dalam hal mengikuti cara ‘bercintanya’ yang ‘khas’; dia tak ingin jalan ataupun ngobrol hanya berduaan, aku setujui. Dia tak ingin terlalu sering dikunjungi, aku juga tidak menolak.
Sejak semula, jauh sebelum mengungkapkan perasaanku padanya, aku sudah mengira akan semua keinginannya dalam hal ‘cara memadu kasih’. Aku sadari itu sebelumnya karena aku tahu siapa dia. Dia seorang ukht yang taat dan sangat memahami konsep dan doktrin ajaran agama yang dianutnya.
Aku berani dan siap untuk menanggung resiko itu semua, walaupun aku harus sabar mendengar celotehan dan sindiran teman-teman gaulku. Toh setelah ku jalani ternyata enjoy juga. Mereka sering mengatakan, “kamu ketinggalan jaman, masak pacaran nggak ada apelnya”. ”Masak pacaran nggak pernah jalan bareng, apa enaknya pacaran seperti itu.”
Biasanya aku hanya bisa menjawab, “itulah kerennya pacaranku, yang berbeda dengan kamu semua hehe...”. Mereka itu teman fitness sekaligus fathner sparing kungfuku. Aku juga sering kumpul dan bermain bersama mereka. Mereka semuanya baik, hanya saja mereka bersikap demikian karena mungkin belum tahu hukum pacaran yang mereka maksud.
Mereka mengetahui aku sudah punya kekasih, ketika secara tidak sengaja, salah seorang dari mereka membaca smsku yang telah kukirimkan pada pacarku. Semenjak itu, tersebarlah dikalangan teman-temanku bahwa aku sudah punya kekasih. Namun mereka belum pernah melihatku apel malam minggu atau berjalan sama cewek. Karenanya mereka sering nyeletuk mengomporiku, provokasi menurut terminologi modern sekarang.
Aku selalu acuh dan tak pernah marah dengan sindiran-sindiran teman-temanku yang dikemas dalam canda mereka. Aku tetap merasa ‘bangga’ dengan cara pacaran yang dianut kekasihku, karena tak terbawa arus negatif pergaulan modern di era globalisasi, yang bila tidak dipagari dengan keimanan dan ketakwaan, kemodernan dan globalisasi sekaligus ‘transparansi’ hanya akan membawa kepada kedekadensian moral anak bangsa.
Asumsi pacaran versi kekasihku yang jauh berbeda dengan pacaran yang jadi pemahaman anak muda jaman sekarang, memang telah ku pertimbangkan matang-matang sebelum aku ‘melamar’nya, sehingga ketika ‘lamaranku’ diterima, aku tidak heran dan keberatan untuk ‘berpacaran’ dengan caranya. Sampai akhirnya aku sekarang sudah terbiasa dengan tidak adanya `apel` malam minggu, ataupun jalan berdua. Pacaranku cukup hanya dengan sms yang tidak sering dan telepon yang dilakukan sekali-kali saja. Paling banter, main bersama adik kecilnya, Usman.
Bukannya aku tidak mau untuk sering ngobrol dan menemuinya, hanya saja, dia punya syarat tertentu sebagai ‘mahar’ untuk bisa berjalan dan ngobrol bersamanya, yaitu; boleh ngobrol tapi harus di rumahnya atau di tempat umum yang ramai, juga jangan berdua. Karenanya, Usman, adik kandungnya yang baru kelas enam SD akrab denganku, karena sering diajaknya untuk menemaniku ngobrol dengannya. Syarat lainnya, bila sedang jalan-jalan kemudian terdengar azan, maka harus ‘transit’ dulu ke mesjid untuk sekedar berjamaah.
Pernah suatu hari, berkenaan dengan moment hari ulang tahunnya, kebetulan hari itu pas libur. Aku sengaja mengajaknya -tentu dengan Usman- untuk ku traktir makan siang di sebuah restoran yang cukup elit untuk standar menengah. Tiba di restoran beberapa menit sebelum dhuhur. Ketika makanan hendak dipesan, terdengar muadzin memanggil. Memesan makananpun dibatalkan. “Biar tenang makannya, kita sholat dulu aja yuk!” ajaknya kepadaku. Akupun setuju dan segera menuju masjid yang berada dekat restoran tersebut.
Hatiku sangat sedih dan pedih ketika telponku diputuskannya sebelum aku selesai bicara. Namun aku memakluminya. Aku yakin dia melakukannya karena masih dalam keadaan emosi. Besok atau lusa aku yakin dia akan sadar dan menyesali segala perbuatannya itu.
***
Aku tak tahu kenapa. Saat ini, untuk kasus ini, aku sangat kesal dan emosi. Bahkan kekesalanku kali ini mampu memaksaku memijit tombol merah pada Hpku dan memutuskan pembicaraannya di telepon. Padahal, biasanya aku selalu sabar dan bersikap tenang dalam menghadapi setiap masalah.
Aku lakukan ini semua terdorong oleh rasa emosi dan rasa egois yang mendadak kali ini sangat sulit ku kendalikan. Ada rasa gengsi menyelinap dalam hatiku untuk menerima maafnya.
Aku tidak menafikan kejujuran, kesetiaan dan semua kebaikannya. Aku juga tidak memungkiri hati ini masih sangat menyayangi dan mencintainya. Bahkan aku tidak menjamin, jika ku berpisah dan putus dengannya, akan mendapatkan pengganti seperti dia. Akan sulit kukira untuk mendapatkan laki-laki seperti dia.
Bila aku pikir ulang, memang kesalahannya tidak seberapa. Dia bertanya seperti itu karena dia memang sangat mencintai dan memperhatikanku. Hanya karena suasana hatiku saat ini kurang kondusif dan aku juga kurang enak badan, ketika ditanya, “kemarin jalan dengan siapa”? terasa olehku, dia seperti menginterogasi dan menuduhku berkhianat dan tidak setia.
Ah, aku sekarang merasa sangat bingung. Ingin permohonan maaf ini kusampaikan segera padanya, hanya saja gengsi ini belumlah hilang. Ingin rasanya sekarang aku menelpon balik dan mohon maaf atas kelancanganku tadi, memutuskan pembicaraannya, namun hati ini belumlah mengizinkan.
***
Hah, apa yang harus kulakukan sekarang, ku telpon dia lagi dan langsung minta maaf tanpa menjelaskan dulu kesalahpahamanku, atau membiarkannya dulu untuk sementara waktu. Membiarkan dia berpikir jernih dengan kepala dingin dan membatalkan niatnya untuk memutuskan hubungan.
Aku sungguh menyesal dengan pertanyaan yang telah kulontarkan padanya. Meskipun ku anggap baik, tenyata menyebabkan problem yang sangat serius. Bila kutahu akan begini jadinya, aku tidak akan bertanya mengenai keadaan dia kemarin berjalan dengan siapa.
Ini semua kesalahanku. Mestinya sebelum aku tanyakan, aku selidiki validitasnya terlebih dahulu, apalagi saat itu aku hanya melihatnya sekilas dari kaca mobil. Mungkin saat itu aku salah lihat, sepertinya dia sedang jalan dengan laki-laki lain, padahal bukan dia. Bisa jadi yang kulihat waktu itu adalah wanita lain yang kebetulan postur, jilbab dan pakaiannya sama persis dengannya.
Maafkan aku ya Allah, aku telah salah sangka. Kutak percaya pertanyaan dan perhatianku jadi simalakama buatku. Ya Allah, jangan Kau putuskan hubunganku dengannya. Berilah jalan keluar dari masalah ini.
Oh iya, besok mungkin kesempatanku untuk meminta maaf langsung atas pertanyaan dan kesalah pahamanku terhadapnya, semoga dia berlapang dada dan menerima kata maafku. Aku yakin sifatnya yang lembut dan pemaaf masih tetap melekat pada pendiriannya. Marahnya tidak akan lama. Ya Allah bukakanlah hatinya untuk menerima maafku.
***
Ah, bila aku turuti rasa egoisme dan gengsi yang berkecamuk menyelimuti relung sanubariku untuk memaafkannya, bukan tidak mungkin aku akan kehilangannya. Bukan tidak mungkin dia akan pergi meninggalkanku.
Sekarang kekhawatiranku semakin terasa dan bertambah, jika kuingat segala kebaikan, perhatian, dan dedikasinya terhadapku selama ini. Aku khawatir bila dia pergi meninggalkanku, aku tidak temukan laki-laki seperti dia. Bukan aku takut tidak bisa mendapatkan laki-laki lain, hanya saja, meskipun banyak laki-laki, tetapi lelaki seperti dia sangatlah jarang. Tanpa rahmat dan pertolongan-Allah, sulit bagiku untuk mendapatkannya. Selain itu, aku juga memang masih sangat mencintainya.
Aku menyesal telah menutup teleponnya secara paksa sebelum selesai dia menjelaskan maksud pertanyaanya tadi. Padahal mestinya aku tidak usah emosi kalau memang aku tidak pernah mengkhianati cinta dan kasihnya, apalagi sampai jalan berdua dengan bukan muhrimku. Ya Allah, hilangkanlah rasa egoisme dan gengsi yang melekat dalam jiwa dan perasaanku saat ini, agar aku bisa menerima maafnya. Agar aku bisa memohon maaf padanya. Aku yakin, dia akan menerima maafku dan memaklumi keadaanku yang sedang emosi. Sifatnya yang pemaaf tidak mungkin membuatnya tetap marah padaku.
Besok dia pasti hadir dalam acara pernikahan temannya sekaligus temanku juga. Aku akan berikan surat permohonan maafku melalui Usman.
***
Wah, ternyata acara pernikahan ini cukup ramai, para undangan cukup banyak yang datang. Pagelaran nasyid cukup semarak, mengiringi makan siang para tamu. Tidak rugi aku menghadirinya. Tapi, kemanakah dia? aku belum melihatnya. “mungkin dia belum datang” gerentes hatiku.
Tiba-tiba, tanpa sengaja mataku tertuju pada dua orang pasangan yang berada pada antrian panjang, untuk menyalami pengantin, “Hah, itu dia, tapi, ya Allah, siapa laki-laki yang bersamanya”. Melihat pasangan itu, seketika tubuhku mendadak menjadi panas dan bergetar. Tanganku mendadak membundal kepal. Napasku mendadak tersenggal-senggal. Hampir aku tidak dapat mengontrol emosiku dan berlari serta meggedorkan kepalan keras tanganku pada wajah lelaki yang berada disamping wanita itu, atau menyarangkan Tendangan Langit dan Tendangan Pisau kungfuku kearah dada dan perut pria yang berdampingan dengan wanita itu, atau bila perlu kuajak berduel sampai salah satu dariku tak dapat berdiri dan mendampingi wanita itu, dialah wanitaku.
Hhmm, berarti penglihatanku saat itu benar adanya, dia berjalan bersama lelaki lain. Sungguh tak kusangka dan kuduga, dibalik keiffahan dan kelembutannya yang selama ini tidak ku ragukan, ternyata hanya didepanku belaka. Kecintaan dan kesetiaannya yang selama ini kuyakini hanya builshit. She’s lier. Sekarang hati dan seonggok harapanku telah hancur berkeping-keping. Wanita yang kupercayai tuk memegang cinta kasih dan kesetiaanku, kini telah berkhianat dan pergi. Tak meninggalkan walau hanya separuh napasku. Ya Allah, kuatkan hati dan bathinku menerima kenyataan ini. Kuatkan jiwaku agar tidak menyakiti dia dan laki-laki itu dengan kemarahanku yang kini membuncah dan menggelora memenuhi seluruh nadi darah mudaku.
“Eh, saya cari-cari ternyata Akang ada disini” tiba-tiba Usman sudah berada disampingku dengan sebuah amplop surat putih ditangannya. Segera ku sembunyikan kegeraman dan kekecewaan hatiku. Kuperbaiki raut wajahku serta ku lemaskan kepalan tangan bajaku yang sejak tadi keras membatu.
“Iya, Akang baru datang, Usman lagi ngapain? Kok nggak sama Teteh?” kupaksakan untuk mengulum senyum dan balik bertanya pada Usman.
“Oh, Teteh tadi lagi sama paman. Tuh Teteh lagi menyalami pengantin” jawab Usman sambil menunjukkan lurus telunjuknya kearah pasangan yang sejak tadi jadi perhatianku, sekaligus penyebab kekecewaan dan kemarahan bathinku.
“Hah, jadi, yang sama teteh itu paman Usman?” pertanyaanku terlontar kaget.
“iya, itu paman Usman yang baru datang dari Jakarta seminggu yang lalu. Teteh belum sempat beritahu Akang. Kenapa Kang? Cemburu yah? Hehe...” tawa dan pertanyaan Usman membuatku tersipu malu. Mungkin rona wajahku akan terlihat memerah bila seandainya ku bercermin sekarang.
“Ah, kamu, tahu apa tentang cemburu? Kamu masih kecil, belum waktunya” jawabanku terlontar teriring senyum yang kini mendadak bisa ku ukir tanpa keterpaksaan.
Jawaban Usman mengungkap hakikat kecemburuanku selama ini. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, atas bantuan-Mu, kesalahpahamanku telah terjawab.
***
Setelah pulang dari acara pernikahan, aku langsung membuka surat yang kuterima dari Usman. Ku baca kata demi kata isi surat itu. Isinya tidak terlalu panjang, hanya ada serangkaian kalimat yang berada diantara dua tanda petik, yang kuulang-ulang membacanya, untuk memahami makna yang terkandung didalamnya. Abringan kalimat itu laksana seteguk air di tengah padang pasir. Dapat memadamkan panas kehausanku sekaligus kemarahanku yang sudah mulai mereda. Antrian kata-kata itu:
“Rosul juga pernah marah, marahnya Rosul berdasarkan KECINTAANNYA terhadap umat, begitulah marahku SAAT ITU. Hatiku TIDAK BERUBAH. MAAFKAN AKU!!!”
Di pinggiran kota Tunis
Ulpa®18 Maret 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home